API DI BUKIT MENOREH
Karya : SH Mintardja
Buku ke-58
AGUNG SEDAYU dan Sumangkar mengerutkan keningnya. Dan mereka
segera dapat menebak, “suara itu suara Swandaru.”
“Anak itu senang sekali bermain-main dengan cara ini,” desis
Agung Sedayu.
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan mereka pun
mendengar suara melengking tinggi, “Kalian benar-benar telah menjadi pikun. He,
apakah hantu-hantu di Alas Mentaok itu sudah pada pikun? Atau memang kalian
adalah jadi-jadian dari orang-orang yang sudah pikun dan kehilangan akal? Aku
di sini. Akulah Kiai Dandang Wesi yang kalian cari,” suara itu terputus sejenak
oleh batuk-batuk kecil. Tetapi agaknya Swandaru memang anak bengal, katanya,
“Maaf, aku sedang terbatuk-batuk. Di Gunung Merapi memang sedang berjangkit penyakit
batuk khusus bagi hantu-hantu.”
“Gila,” desis Agung Sedayu, “Swandaru tidak dapat bermain
dengan baik.”
Ternyata kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan hati
orang-orang yang sedang berusaha mengepung Kiai Dandang Wesi. Orang-orang yang
menyebut diri mereka hantu-hantu Alas Mentaok. Karena itu salah seorang dari
mereka segera berteriak, “Omong kosong! Kalian mencoba mengelabuhi kami. Aku
tahu, kalian bukan terdiri dari seseorang. Ternyata kalian berada di beberapa
tempat dan bermain hantu-hantuan.”
Swandaru masih juga menjawab, “Bodoh sekali. Aku adalah Kiai
Dandang Wesi. Apakah kau tidak percaya.”
Dalam pada itu, Agung Sedayu pun berkata kepada Sumangkar,
“Paman, Swandaru dan Guru telah memencar. Sebaiknya aku pun akan memisahkan
diri. Kita sudah berada di dalam keadaan yang cukup jelas. Kita akan
ber-tempur. Tetapi sebaiknya kita mencoba untuk menurunkan gelora keberanian
mereka. Kalau mereka menjadi agak bingung maka jantung mereka pun akan susut.”
Sumangkar menganggukkan kepalanya. “Hati-hatilah,” desisnya.
Agung Sedayu pun kemudian merayap menjauhkan diri dari
Sumangkar. Permainan mereka akan segera sampai ke puncaknya, dan mereka pun
akan segera berbuat sesuatu.
Sementara itu, keadaan di belakang barak itu masih saja
hening dan tegang. Orang-orang yang menyebut dirinya hantu-hantu Alas Mentaok
itu masih diliputi oleh keragu-raguan. Sementara Swandaru pun tidak lagi
berteriak-teriak karena lehernya sudah mulai terasa serak.
Selagi orang-orang yang berusaha mengepung yang menyebut
darinya Kiai Dandang Wesi itu masih diliputi oleh keragu-raguan, maka terdengar
suara melengking di tempat yang lain pula. Suara Agung Sedayu, “Ayo, tangkaplah
aku. Aku sudah berpindah tempat, sedang kalian masih saja membeku. Apakah
dengan demikian kalian akan mampu menangkap kami?”
Tidak terdengar jawaban. Tetapi Agung Sedayu melihat
bayangan yang bergerak-gerak di dalam gelapnya malam. Sejenak kemudian dari
dalam rimbunnya dedaunan Agung Sedayu, Swandaru, Kiai Gringsing, dan Sumangkar
yang memencar itu melihat sesuatu yang berkilat-kilat tersembul dari dalam
gerumbul. Bahkan kemudian tampak benda itu seakan-akan bercahaya di dalam
gelapnya malam.
“Permainan apa lagi yang sedang mereka lakukan?” bertanya
Kiai Gringsing dan murid-muridnya di dalam hati.
Ketika cahaya itu kemudian hilang, maka mereka pun melihat
bayangan yang lain bergerak-gerak mendekati. Seperti yang diduga oleh
Sumangkar. Kira-kira sepuluh orang. Agaknya benda yang bercahaya itu merupakan
tanda untuk mengumpulkan orang-orang mereka.
Agung Sedayu menjadi semakin ingin tahu, apakah yang akan
mereka percakapkan. Karena itu, ia pun kemudian merayap mendekati kelompok yang
telah terkumpul itu.
Namun ternyata, bukan saja Agung Sedayu, tetapi juga
gurunya, Swandaru dan Sumangkar ingin tahu apa yang akan mereka perbincangkan.
Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar
salah seorang dari orang-orang itu berkata, “Nah, kita sudah berhasil. Agaknya
bukan kita sajalah yang tertarik oleh tanda itu. Agaknya hantu dari Gunung
Merapi itu sudah mendekat pula.”
Dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Pasti ada seorang
yang berilmu cukup tinggi di antara mereka. Seorang atau bahkan lebih, karena
mereka segera menangkap desah nafas orang yang sedang merayap mendekati.
Tetapi sekali lagi Agung Sedayu mengumpat. Ternyata Swandaru
yang serak itu tidak berhasil menahan gatal-gatal di lehernya. Ialah agaknya
yang telah memungkinkan orang-orang itu mendengar kehadirannya, karena Agung
Sedayu pun kemudian berhasil menangkap desah nafasnya. Sehingga dengan demikian
Agung Sedayu mengetahui bahwa adik seperguruannya itu juga sudah ada di
dekatnya.
Dengan hati-hati ia bergeser, mendekati. Tetapi ia tidak
berani menyentuhnya. Kalau Swandaru itu terkejut, maka ia pasti akan segera
berbuat sesuatu dan kehadiran mereka akan segera diketahui lebih pasti lagi.
“Ayo, jangan hanya mengintip di dalam gelap. Kemarilah. Kita
akan bersama-sama melepaskan kedok kita,” berkata salah seorang dari mereka.
Tetapi tidak ada seorang pun yang menyahut. Agung Sedayu, Swandaru,
Kiai Gringsing, Sumangkar yang sudah ada di sekitar tempat itu masih tetap
berada di dalam persembunyian mereka, di balik dedaunan yang rimbun.
“Baiklah,” berkata suara itu, “kamilah yang akan mulai. Kami
akan berbuat sesuatu. Kalau kalian masih tetap bersembunyi, maka kami akan
membakar barak itu. Itu adalah usaha kami yang terakhir untuk memancing kalian
keluar dari persembunyian.”
Tetapi masih belum ada jawaban. Kiai Gringsing masih juga
berdiam diri di tempatnya.
“Tidak ada waktu lagi. Kita harus segera melakukannya,”
desis salah seorang dari mereka.
Sejenak kemudian orang-orang itu pun berdiri dari
persembunyiannya. Namun tanpa disangka-sangka salah seorang dari mereka dengan
cepatnya telah meloncat ke arah persembunyian Swandaru. Agaknya suara desah
nafasnyalah yang telah didengar oleh orang-orang itu, karena lehernya yang
gatal setelah ia berteriak-teriak.
Untunglah bahwa Swandaru telah bersiaga menghadapi setiap
kemungkinan. Apalagi orang yang menyerangnya itu masih belum tahu pasti di mana
ia bersembunyi. Dengan demikian, maka Swandaru masih mendapat kesempatan untuk
berguling menjauh dan mengurai senjata yang membelit lambungnya.
Tetapi yang terdengar lebih dahulu adalah ledakan cambuk di
arah yang lain. Ternyata Kiai Gringsing berusaha menarik perhatian orang-orang
itu, supaya mereka tidak memusatkan serangan mereka kepada Swandaru.
Usaha Kiai Gringsing itu pun berhasil. Beberapa orang segera
berloncatan menyerangnya. Namun di saat yang hampir bersamaan, cambuk Agung
Sedayu pun telah meledak pula, hampir berbareng dengan cambuk Swandaru sendiri.
Orang-orang yang menyebut diri mereka hantu-hantu Alas
Mentaok itu kini merasa bahwa lawan mereka telah genap tiga orang. Tiga orang
yang agaknya telah dituntutnya dari orang-orang di dalam barak itu. Tiga orang
yang bersenjata cambuk.
“Tangkap mereka hidup-hidup,” terdengar perintah dari salah
seorang lawan-lawan Kiai Gringsing itu, “kita memerlukan keterangannya.
Siapakah yang telah menempatkannya di dalam barak ini.”
Tidak terdengar jawaban. Tetapi pertempuran telah terjadi di
tiga lingkaran. Agung Sedayu melawan beberapa orang, Swandaru juga dan demikian
pula Kiai Gringsing.
Sumangkar masih tetap diam di tempatnya. Sejenak ia
mengamati perkelahian itu. Apakah di dalam kelompok lawan Kiai Gringsing itu
terdapat orang yang harus mendapat perhatian.
Sejenak kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada
empat orang yang tampaknya memimpin kawan-kawannya di dalam olah kanuragan.
Satu di antara mereka adalah orang yang terkuat, yang justru menyerang Swandaru
yang pertama kali.
Sumangkar menjadi berdebar-debar. Orang itu bukan sekedar
orang-orang kebanyakan. Apalagi orang yang kini sedang berusaha untuk segera
berhasil menguasai Swandaru yang tampak mengalami kesulitan.
“Siapakah orang ini?” pertanyaan itu mengetuk jantung
Sumangkar.
“Tangkap mereka hidup-hidup,” terdengar orang itu memberikan
perintah, “atau setidak-tidaknya mereka bertiga jangan sampai terbunuh
seandainya kalian harus melukainya.”
Tidak ada jawaban. Tetapi serangan mereka menjadi semakin
garang. Mereka tampaknya berusaha sungguh-sungguh untuk dapat menguasai Kiai
Gringsing beserta anak-anaknya dengan segera.
Meskipun salah seorang dari orang-orang terkuat ikut serta
bertempur melawan Agung Sedayu namun Agung Sedayu tidak mengalami kesulitan
seperti Swandaru. Agung Sedayu yang melawan tiga orang sekaligus, masih sempat
meloncat surut, mencari tempat yang agak lapang, sehingga ia dapat
mempergunakan senjatanya dengan leluasa. Ujung senjatanya tidak tersangkut
ranting-ranting atau pohon-pohon perdu, meskipun ranting-ranting itu pun
kemudian seakan-akan ditebas dengan pedang, namun kadang-kadang terasa geraknya
terganggu juga.
Kiai Gringsing yang bertempur di lingkaran yang lain, harus
melawan lima orang sekaligus. Adalah kebetulan sekali bahwa bukan orang-orang
terkuat yang menghadapinya. Sementara Swandaru dengan susah payah mencoba
mempertahankan diri dari sergapan empat orang yang bertempur dengan garangnya.
“Swandarulah yang berada di dalam bahaya yang sebenarnya,”
berkata Sumangkar di dalam hatinya.
Dan tiba-tiba hatinya dijalari oleh keinginannya untuk
menyesuaikan diri dengan cara yang telah dilakukan oleh Kiai Gringsing. Tanpa
setahu lawan-lawannya, ia berhasil mengambil kerudung hitam yang justru semula
dipergunakan oleh hantu-hantu Alas Mentaok itu. Kemudian dipungutnya pu-la
tengkorak yang sudah mereka tanggalkan dari tangkainya.
Sumangkar pun kemudian mempergunakan kerudung itu. Dengan
hati-hati ia mendekati Swandaru yang selalu terdesak surut.
Kiai Gringsing pun menjadi cemas melihat keadaan muridnya
yang muda itu. Karena itu maka ia pun segera mengerahkan kemampuannya untuk
menerobos kepungan kelima lawan-lawannya yang tidak begitu berat baginya.
Meskipun demikian, ia masih memerlukan waktu beberapa saat untuk dapat menembus
kepungan mereka. Sedang waktu yang beberapa saat itu ternyata sangat gawat bagi
Swandaru. Orang terkuat dari lawan-lawan mereka benar-benar berusaha untuk
dapat menangkap Swandaru. Serangannya bagaikan angin ribut yang menghantam dari
segala arah.
Sejenak kemudian Swandaru telah menjadi pening. Ia
kehilangan keseimbangannya untuk melawan serangan-serangan yang membadai dari
segala arah itu. Bahkan kemudian senjatanya seakan-akan sudah tidak berdaya
lagi untuk menahan mereka. Apalagi salah seorang dari mereka adalah orang yang
mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari Swandaru sendiri.
Kecemasan yang tajam telah menyengat hati Kiai Gringsing
ketika ia melihat Swandaru terdorong jauh ke belakang, sehingga ia hampir
kehilangan keseimbangannya. Dengan susah payah ia mencoba berdiri tegak di atas
kedua kakinya. Tetapi ia masih juga terhuyung-huyung. Dengan demikian maka
ketika datang serangan berikutnya, Swandaru sama sekali tidak berhasil
bertahan. Ketika ia melihat pedang yang terjulur lurus ke dadanya, ia masih
sempat melecutkan cambuknya. Tetapi sentuhan kaki di lambungnya, telah membuat
Swandaru terlempar ke samping dan jatuh terbanting melanggar sebatang pohon
perdu, sehingga pohon itu ikut roboh pula.
Pada saat itulah orang yang memiliki kemampuan yang luar
biasa itu meloncat mendekati Swandaru. Ia sudah siap menerkam anak itu dan
membuatnya tidak berdaya. Dengan demikian, ia akan segera dapat membantu
kawan-kawannya yang lain.
Namun disaat yang gawat itu, Kiai Gringsing telah berhasil
melepaskan diri dari lawan-lawannya. Dengan sigapnya ia meloncat sambil
meledakkan cambuknya tepat di belakang orang yang sedang berusaha menerkam
Swan-daru yang masih terbaring di tanah.
Ternyata suara cambuk itu telah membuatnya terkejut. Sejenak
ia berpaling, dan dilihatnya Kiai Gringsing telah menyerangnya dengan
garangnya.
Namun dalam pada itu, lawan-lawan Kiai Gringsing sendiri
telah memburunya. Lawan-lawan Swandaru pun ikut mengepungnya pula, termasuk
orang yang terkuat di antara mereka.
Kiai Gringsing terkejut ketika ia melihat wajah orang itu.
Orang yang dengan mudahnya dapat menguasai Swandaru. Orang itu adalah Kiai
Damar.
“Kau Kiai Damar,” desis Kiai Gringsing.
“Huh, aku sudah mengira bahwa kau sama sekali bukan seorang
gembala yang dungu. Tetapi umurmu tidak akan dapat diperpanjang lagi. Kau akan
jatuh ke tangan kami. Kami akan memeras keteranganmu sebelum kalian mati di
bawah kaki-kaki kuda kami.” Kiai Damar berhenti sejenak, lalu, “Beberapa
orangku terbunuh siang ini. Kami datang menuntut balas. Pengawas-pengawasmu
yang gila itu akan kami musnahkan bersamamu dan anak-anakmu itu.”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia harus menghadapi
tugas yang cukup berat. Ia mengharap bahwa Swandaru akan dapat mempergunakan
kesempatan itu, melepaskan diri dan kembali turun di peperangan.
Namun dalam pada itu, di dalam ketegangan yang memuncak,
tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah tengkorak yang terlontar diudara dan
jatuh tepat di antara mereka yang telah siap untuk mempertaruhkan jiwanya.
Apalagi sejenak kemudian disusul oleh suara yang melengking tinggi, “Jangan
takut. Kiai Dandang Wesi tidak akan mengingkari janjinya. Aku akan melindungi
kalian dari setiap bencana. Inilah aku, Kiai Dandang Wesi dari Gunung Merapi.”
Ternyata suara yang melengking tinggi itu telah memberikan
pengaruh yang luar biasa. Beberapa di antara mereka yang berkelahi melawan Kiai
Gringsing dan kedua anak-anaknya itu menjadi bingung sesaat.
Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing sendiri segera
dapat mengetahui, bahwa yang kini sedang bermain hantu-hantuan itu adalah
Sumangkar. Bahkan Swandaru yang telah meloncat bangun itu masih sempat
tersenyum. Agaknya Ki Sumangkar pun telah dijangkiti kebiasaan gurunya yang
kadang-kadang aneh.
Selagi keadaan diliputi oleh keragu-raguan dan kebimbangan
itulah maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya seakan-akan mendapat kesempatan.
Dengan lantang maka Kiai Gringsing pun berkata, “Nah menyerahlah. Kalau tidak,
maka Kiai Dandang Wesi akan menggilas kalian dengan kekerasan.”
Namun Kiai Damar dan anak buahnya itu justru seperti
terbangun dari mimpinya. Apalagi ketika Kiai Damar berteriak, “Persetan dengan
hantu-hantu dari Gunung Merapi. Kami sudah terlanjur mulai. Apa pun yang akan
terjadi, akan kami hadapi.”
“Jangan sombong,” sahut Kiai Gringsing, lalu, “kau harus
merasa bahwa kau tidak akan berdaya menghadapi hantu yang sebenarnya, bukan
sekedar hantu-hantuan seperti orang-orangmu. Tengkorak yang dipasang di atas
tongkat dan dilekati dengan kunang-kunang itu sama sekali tidak menakutkan.
Kerudung hitam dan kuda-kuda yang bersayap itu seperti mainan kanak-anak yang
jemu bermain kuda-kudaan dari pelepah pisang.”
“Diam!” teriak Kiai Damar. “Kau akan segera binasa. Kami
akan melanjutkan usaha kami menakut-nakuti orang-orang di dalam barak itu dan kemudian
menguasainya setelah kalian bertiga mati.”
“Kau lupa Kiai Dandang Wesi.”
“Persetan, ia tidak mampu melawan kami.”
Belum lagi mulutnya terkatup, maka sesosok tubuh yang
berkerudung hitam telah tampil di dalam pertempuran itu. Seperti yang pernah
diceriterakan oleh Agung Sedayu, pengalamannya dengan Kiai Dandang Wesi, maka
Sumangkar yang berkerudung hitam itu pun mencoba menyesuaikan diri. Mula-mula
ia melingkar di tanah, seperti seonggok batu yang hitam kemudian melenting
tinggi. Lalu dengan, tiba-tiba pula menyerang orang-orang yang menyebut dirinya
hantu-hantu dari Alas Mentaok itu.
Gerak dan tingkah laku Sumangkar benar-benar telah
mengejutkan mereka. Mereka tidak mengira bahwa akan hadir di tengah peperangan
itu, suatu bentuk yang sangat mendebarkan jantung mereka. Apalagi bentuk yang
aneh itu ternyata sangat berbahaya.
Demikianlah maka mereka pun segera terlibat di dalam
perkelahian melawan Kiai Gringsing, kedua anak-anaknya dan sesosok tubuh yang
menyebut dirinya hantu dari Gunung Merapi.
Kiai Damar yang memimpin kawannya, merasa wajib untuk
melawan musuh yang mereka anggap paling kuat, yaitu hantu dari Gunung Merapi
itu. Namun sebenarnyalah bahwa hantu itu adalah hantu yang benar-benar lincah
dan berbahaya.
Demikianlah di belakang barak itu telah terjadi perkelahian
yang semakin lama semakin sengit. Beberapa orang terkuat dari rombongan Kiai
Damar itu telah dibagi. Masing-masing dikawani oleh orang-orang lain, berusaha
untuk dapat menangkap lawan mereka hidup-hidup. Bahkan Kiai Damar pun telah
mencoba pula, apabila mungkin menangkap hantu-hantu dari Gunung Merapi itu.
Namun kekuatan lawan mereka benar-benar tidak mereka duga
sebelumnya. Mereka hanya mengira bahwa kekuatan lawannya itu sedikit melampaui
orang-orang mereka yang telah terbunuh. Tetapi ternyata bahwa mereka menjumpai
kekuatan yang luar biasa. Menurut perhitungan mereka, mereka yang berjumlah
lebih dari sepuluh orang itu telah cukup kuat untuk menangkap tiga orang yang
mereka anggap telah menghalang-halangi usaha mereka itu. Bahkan mereka
menyangka bahwa orang-orang di dalam barak itu akan dapat mereka pengaruhi ikut
serta, bahkan mengeroyok beramai-ramai ketiga orang tersebut. Namun perhitungan
mereka ternyata telah meleset. Tiga orang itu ternyata mempunyai kekuatan yang
luar biasa, ditambah dengan hadirnya sesosok tubuh yang sama sekali berada di
luar dugaan, yaitu sesosok tubuh dengan pakaian hitam dan menyebut dirinya Kiai
Dandang Wesi.
Demikianlah, maka masing-masing telah bertempur melawan tiga
orang sekaligus. Juga Kiai Dandang Wesi telah berkelahi melawan tiga orang, dan
di antara ketiga orang itu ialah Kiai Damar sendiri.
Dalam pada itu, orang-orang di dalam barak itu pun
seakan-akan telah benar-benar membeku. Mereka hanya mendengar suara cambuk
meledak-ledak, kemudian beberapa kalimat-kalimat yang merontokkan isi dada
mereka.
Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang telah
terjadi sebenarnya di belakang barak mereka. Namun terbayang di kepala mereka,
seakan-akan hantu-hantu sedang berkelahi mati-matian. Mereka berterbangan dan
sambar-menyambar. Sesosok hilang dan yang lain telah membakar dirinya dan
berusaha menyentuh lawannya dengan nyala yang berkobar. Tetapi kemudian telah
memancar air dari tubuh sesosok hantu yang menyebut dirinya Kiai Dandang Wesi
memandamkan api itu. Tetapi api itu kemudian menjelma seekor naga raksasa yang
siap menelan lawannya. Namun sudah tentu hantu dari Gunung Merapi dan
pasukannya akan tidak membiarkan dirinya ditelan oleh ular naga. Mereka segera
berubah menjadi seekor harimau sebesar gunung anakan. Sedang di pihak lain,
tengkorak-tengkorak berkeliaran melawan hantu-hantu bermata bara.
Tetapi di antara mereka terdapat tiga orang manusia yang
bersenjata cambuk itu. Cambuknya terdengar meledak-ledak memekakkan telinga.
“Apakah mereka dapat mengimbangi kemarahan hantu-hantu itu?”
pertanyaan itu setiap kali telah melonjak di dalam setiap dada. Namun ada di
antara mereka yang berkata di dalam hati, “Ketiga orang itu pasti orang-orang
yang sebenarnya dapat melihat hantu dan cambuk mereka itu mempunyai kekuatan
yang dahsyat.”
Meskipun demikian kecemasan yang memuncak telah mencengkam
hati mereka. Bahkan ada di antara mereka yang sama sekali tidak dapat
membayangkan apa pun juga dan meskipun mereka tidak pingsan, tetapi mereka
seakan-akan telah kehilangan segenap kesadaran.
Pemimpin pengawas yang terluka itu pun menjadi cemas pula.
Sejenak terbayang perkelahian yang dahsyat antara orang tua yang menyebut
dirinya bernama Truna Podang itu dengan beberapa orang dari gerombolan yang
tidak dikenal. Namun ia pun membayangkan juga betapa dahsyatnya hantu-hantu
yang sedang bertempur. Di dalam kepalanya terbayang campur baur yang buram. Dan
pemimpin pengawas itu tidak berani membuat gambaran yang tegas, apakah yang
sebenarnya berkelahi itu adalah manusia-manusia seperti Truna Podang atau
hantu-hantu dari Alas Mentaok melawan hantu-hantu dari Gunung Merapi. Bahkan
akhirnya pemimpin pengawas itu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Truna
Podang itulah yaug menyebut dirinya Kiai Dandang Wesi?”
Tetapi pemimpin pengawas itu ternyata telah membuat
kesimpulan yang terbalik. Katanya, “Kalau begitu Truna Podang itu bukan manusia
sewajarnya. Ia tentu hantu dari Gunung Merapi yang membuat dirinya seperti
manusia untuk menolong kami. Juga kedua anak-anaknya itu pasti anak-anak jin
atau perayangan.”
Dalam pada itu perkelahian di belakang barak itu masih
berlangsung terus. Agung Sedayu bertempur dengan gigihnya melawan
lawan-lawannya bersenjata pedang. Setiap kali cambuknya meledak dan menyentuh
tubuh lawannya terdengar keluhan tertahan. Ujung cambuk Agung Sedayu, seperti
juga ujung cambuk Swandaru dan gurunya, di beberapa bagian terikat oleh
karah-karah besi baja yang dapat menyobek tubuh.
Di bagian lain Swandaru yang sudah mulai dapat bernafas
karena kekuatan lawannya telah menjadi jauh berkurang, bertempur sambil
berputar-putar. Ia masih juga sempat melihat bagaimana gurunya, mendesak terus
lawan-lawannya, betapa pun lawan-lawannya berjuang dengan gigihnya. Bahkan
kemudian Kiai Gringsing berhasil menguasai mereka, sehingga mereka seakan-akan
tidak berdaya sama sekali.
Dibagian lain, Kiai Dandang Wesi yang berkerudung hitam
masih juga bertempur melawan Kiai Damar beserta kedua kawan-kawannya. Ternyata
permainannya itu terasa agak mengganggunya sehingga Sumangkar tidak dapat
bertempur sewajarnya. Ia hanya dapat melenting-lenting dan meloncat-loncat.
Sekali-sekali melempar lawan-lawannya dengan batu, kemudian menghindar
jauh-jauh.
Akhirnya Sumangkar tidak telaten lagi mempergunakan kerudung
hitam itu. Kerudung itu pun kemudian disingsingkannya dan disangkutkan di
pundaknya. Katanya, “Kalau hantu-hantu di Alas Mentaok bertempur dengan
mengambil bentuk sebagai seorang manusia, apa salahnya aku menyesuaikan diriku.
Aku akan mengambil bentukku sebelum aku menjadi perayangan. Inilah Kiai Dandang
Wesi, Abdi Dalem Pajang pemomong Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi
Loring Pasar di masa kanak-kanaknya.”
Kiai Damar yang bertempur melawan Sumangkar yang menyebut
dirinya Kiai Dandang Wesi itu tidak menyahut. Tetapi sejenak ia terpengaruh
juga melihat bentuk Ki Sumangkar, yang tampaknya memang sudah cukup tua.
Janggutnya telah memutih dan di wajahnya telah tampak kerut-merut ketuaannya.
Dalam kesuraman malam, Kiai Damar tidak dapat melihat bentuk
wajah itu sejelas-jelasnya, namun, ternyata bahwa tandang Sumangkar kemudian
benar-benar di luar dugaan Kiai Damar. Bahkan di dalam hatinya ia justru
menjadi ragu-ragu. Apakah benar orang itu adalah perayangan yang telah musna
dengan raganya? Hanya di dalam saat-saat tertentu saja muncul kembali dalam
bentuknya dan wadagnya itu?
Keragu-raguan Kiai Damar itu ternyata di dalam tata
geraknya. Senjatanya tidak menjadi semakin garang lagi, bahkan kadang-kadang
terasa agak menurun.
Sumangkar yang mengetahui keragu-raguan itu berusaha
menekannya semakin dalam. Katanya, “Inilah ujudku yang sebenarnya. Kalau pada
sekitar dua puluh tahun yang lampau kau pernah menjelajahi daerah Demak lama
kemudian Pajang dan sekitarnya, maka kau pasti pernah bertemu dengan seorang
yang bernama Kiai Dandang Wesi. Itu adalah aku. Dua puluhan tahun atau lebih
sedikit, aku juga sudah setua ini. Dalam bentuk perayangan aku tidak bertambah
tua sampai akhir dari bumi ini. Seratus tahun, dua ratus tahun mendatang, aku
akan tetap setua ini.”
Dada Kiai Damar menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi
ternyata ia tidak mau surut. Ia mencoba berkelahi terus bersama kawan-kawannya.
Bahkan untuk mengusir keragu-raguannya sendiri ia berkata, “Jangan dengarkan
igauannya. Marilah kita tangkap ia hidup-hidup. Ia akan menjadi saksi yang
paling menarik bagi kita semuanya.”
Dengan demikian, maka Kiai Damar pun berusaha untuk semakin
menekan lawannya yang kini sudah berbentuk, yaitu Sumangkar, yang masih saja
nekat menyebut dirinya Kiai Dandang Wesi.
Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin sengit.
Sumangkar yang sudah tidak memiliki tongkatnya lagi, karena telah diberikannya
kepada Sekar Mirah, kini ternyata telah mempergunakan jenis senjata yang lain.
Se-pasang trisula bertangkai pendek. Senjata jenis itu adalah senjata kecil
berujung tiga. Panjangnya tidak lebih dari dua jengkal. Tetapi di tangan
seorang yang hampir mumpuni seperti Sumangkar, senjata di antara sepasang
trisula itu, ternyata terikat pada seutas rantai baja yang kuat, sehingga
trisula itu dapat dilontarkannya dan kemudian ditarik kembali, seperti jenis
senjata bulatan-bulatan besi yang berduri.
“Eh,” berkata Swandaru di dalam hatinya, “orang tua itu
sempat juga membuat mainan aneh itu.”
Dan ternyata bahwa senjata itu segera dapat mempengaruhi
perkelahian. Lawannya yang belum menjajagi betapa dahsyatnya senjata itu,
segera terlihat dalam kesulitan. Seorang kawan Kiai Damar yang menyerang
sekuat-kuatnya, telah kehilangan pedangnya yang terjepit pada trisula yang
diputar dengan cepatnya.
Tangan orang itu tidak cukup kuat menahan putaran pedangnya
sendiri, sehingga pedang yang terlepas itu terlempar beberapa langkah
daripadanya.
Kiai Damar yang melihat hal itu menggeram sambil meloncat
maju. Senjatanya terjulur lurus-lurus ke depan. Namun ketika senjatanya itu
tersentuh trisula Ki Sumangkar, maka Kiai Damar pun segera menariknya kembali
sebelum Sumangkar sempat memutarnya di sela ujung-ujung trisulanya.
Namun demikian tekanan Kiai Damar berhasil memberi
kesempatan kepada kawannya untuk memungut pedangnya yang terjatuh. Bahkan
kemudian mereka bertiga telah berhasil kembali mengepung Ki Sumangkar yang
menyebut dirinya Kiai Dandang Wesi dari Gunung Merapi itu.
Namun, ketika tekanan ketiga orang itu datang bersama-sama
dari tiga arah, Ki Sumangkar segera memutar trisulanya pada rantainya. Demikian
cepatnya sehingga melontarlah bunyi desing yang mengerikan.
“Setan alas,” Kiai Damar mengumpat. Dan Sumangkar yang sudah
kejangkitan penyakit Kiai Gringsing itu menyahut, “Kaulah setan alas, aku hantu
dari Gunung.”
“Tutup mulutmu,” Kiai Damar menjadi semakin marah. Namun ia
tidak segera berhasil menembus putaran trisula Ki Sumangkar yang justru menjadi
semakin cepat.
Yang paling parah adalah orang-orang yang mengeroyok Kiai
Gringsing. Mereka sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Cambuk orang tua itu
meledak-ledak tidak henti-hentinya, membuat telinga mereka seakan-akan tidak
dapat bertahan dan bahkan kepala mereka menjadi pening. Belum lagi
sentuhan-sentuhan ujung juntai cambuk itu, yang telah melukai kulit mereka dan
membuat jalur-jalur merah silang menyilang.
Agaknya Kiai Gringsing memang tidak ingin membinasakan
mereka. Seperti yang diinginkan, ia hendak menangkap mereka hidup-hidup supaya
dapat diketahui, setidak-tidaknya dapat dibayangkan, apakah sebenarnya yang
mereka kehendaki dengan mengganggu para pekerja yang sedang membuka hutan ini.
Dalam pada itu Agung Sedayu dengan mengerahkan tenaganya
berhasil mengimbangi lawannya. Bahkan karena orang-orang yang terkuat dari
lawan-lawannya telah berkumpul melawan Sumangkar dan Kiai Gringsing, maka
lambat laun ia berhasil menguasai lawannya meskipun tidak akan segera dapat
mengalahkan mereka. Sedangkan Swandaru masih harus berjuang mati-matian untuk
mendesak lawan-lawannya. Namun kadang-kadang ia berhasil mengenai salah seorang
dari mereka dan masih juga berkesempatan melihat, betapa dah-syatnya trisula Ki
Sumangkar.
“Bukan main,” desisnya, “setelah ia kehilangan tongkatnya
yang mengerikan, kini ia membuat senjata yang tidak kalah garangnya. Bahkan
sepasang. Sebentar lagi, Sekar Mirah pun pasti akan mampu juga bermain-main
dengan baling-baling maut itu.”
Dan senjata itu ternyata telah menggelisahkan Kiai Damar.
Meskipun Ki Sumangkar tidak segera dapat menguasai Kiai Damar beserta
kawan-kawannya, namun karena Kiai Damar sendiri tidak juga segera dapat
memenangkan perkelahian itu, ia menjadi cemas. Kiai Damar yang merasa dirinya
orang terkuat, bersama dua orang kawannya sama sekali tidak segera dapat menang
atas lawannya. Apalagi kawan-kawannya yang lain. Dan ternyata pula ketika ia
sempat melihat, betapa Kiai Gringsing dengan mudahnya menggiring ketiga
lawannya. Kiai Gringsing bermaksud menekan mereka ke dinding barak. Kemudian
membuat mereka tidak berdaya.
Kiai Damar menggeram di dalam hatinya. Ia sadar bahwa sebentar
lagi, ketiga orang yang melawan gembala tua itu pasti akan segera dikuasainya.
Orang tua itu pasti akan dapat membantu lawannya yang menyebut dirinya bernama
Kiai Dandang Wesi itu.
Karena itu, Kiai Damar telah berjuang sekuat-kuatnya.
Meskipun dengan susah payah, ketiga orang terkuat itu perlahan-lahan sekarang
berhasil mendesak Sumangkar yang bersenjata dahsyat itu. Untunglah, bahwa
Sumangkar dapat mempertahankan jarak jangkau lawan-lawannya dengan trisulanya
yang diputarnya pada rantainya.
Meskipun perlahan-lahan Sumangkar sendiri terdesak, tetapi
ia sama sekali tidak cemas. Ia pasti akan dapat bertahan untuk waktu yang lama.
Kekuatan nafasnya akan membantunya mengatasi kesulitannya. Pada suatu saat,
ketiga lawannya pasti akan susut kekuatannya. Sedang Sumangkar yang tua itu
berusaha untuk tetap menyimpan tenaga cadangan, sehingga pada suatu saat, ia
akan menguasai medan itu setelah lawannya menjadi lelah. Apalagi setelah ia
melihat bahwa Agung Sedayu, Swandaru dan apalagi Kiai Gringsing tidak memerlukan
bantuannya sama sekali. Dengan demikian ia dapat berkelahi sesuai dengan
kemampuan dan perhitungannya. Ia merasa tidak akan dapat memaksa lawan-lawannya
tunduk kepadanya, karena ilmu mereka cukup tinggi. Tetapi ia dapat memaksa
lawannya mengarahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka, sehingga mereka
kehilangan pengamatan dan penghematan tenaga itu. Perhitungan yang matang
itulah yang telah membuatnya semakin tenang menghadapi lawan-lawannya yang
tangguh.
Tetapi Kiai Damar benar-benar tidak dapat menolong
kawan-kawannya yang semakin lama menjadi semakin tersudut di dinding barak.
Cambuk Kiai Gringsing kali ini tidak menggiring kambing-kambing di lapangan
rumput. Tetapi kali ini ia menggiring tiga orang yang menyebut dirinya hantu
Alas Mentaok.
“Besok aku akan dapat memperlihatkan hantu-hantu ini kepada
penghuni barak,” katanya, “dan kalian tidak usah takut, bahwa penghuni-penghuni
barak akan berbuat sesuatu atas kalian. Mungkin ada juga di antara mereka yang
ingin melihat kalian melenyapkan diri seperti asap, atau ingin melihat kalian
berkepala tengkorak naik kuda sembrani dan sebagainya seperti yang pernah
kalian perlihatkan kepada mereka di malam hari.”
Kata-kata Kiai Gringsing itu benar-benar membuat Kiai Damar
dan kawan-kawannya menjadi sakit hati. Tetapi mereka tidak dapat berbuat
banyak. Mereka masih harus menghadapi lawan masing-masing. Apalagi Kiai Damar
yang merasa orang terkuat di antara mereka, bersama dua orang kawannya, tidak
segera dapat mengalahkan lawannya yang menyebut dirinya bernama Kiai Dandang
Wesi.
Dalam pada itu Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing
melihat juga, betapa Sumangkar berusaha dengan cermat untuk dapat mengimbangi
lawan-lawannya. Ternyata Kiai Damar cukup memiliki bekal untuk bertempur
melawan Sumangkar, dibantu oleh dua orang terkuat pula di antara mereka.
“Aku harus segera menyelesaikannya,” berkata Kiai Gringsing
di dalam hati.
Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin seru. Kiai
Damar berusaha semakin keras untuk dapat segera mengalahkan lawannya. Apalagi
ketika ia melihat, ketiga kawannya yang bertempur melawan Kiai Gringsing
menjadi terdesak karenanya.
Karena usaha Kiai Damar tidak segera dapat berhasil, maka ia
pun kemudian mengambil jalan yang terakhir yang dapat dilakukan. Dalam
perkelahian yang sengit, tiba-tiba tangan kirinya telah menggenggam sebilah
keris pusakanya.
Sumangkar adalah orang yang cukup berpengalaman. Karena itu
ketika ia melihat keris Kiai Damar, maka ia pun menjadi berdebar-debar
karenanya. Keris yang berwarna kehitam-hitaman tanpa memantulkan cahaya sama
sekali itu tampaknya bagaikan wajah yang buram penuh dengan kemurkaan dan
dendam.
“Warangan keris itu pasti mengandung racun yang kuat,” desis
Sumangkar di dalam hatinya.
Dalam pada itu, sekilas Sumangkar teringat kepada senjatanya
yang dahsyat. Tongkat berkepala tengkorak kecil yang berwarna
kekuning-kuningan.
Namun yang ada padanya kini adalah sepasang trisula itu. Apa
pun yang dihadapinya, maka ia hanya dapat mempergunakan sepasang trisula itu.
Ternyata, bukan saja Sumangkar yang menjadi berdebar-debar
melihat senjata itu. Kiai Gringsing yang juga melihatnya, menjadi
berdebar-debar juga. Seperti Sumangkar, ia pun segera mengetahui bahaya senjata
Kiai Damar itu pasti mengandung warangan yang sangat tajam.
“Senjata itu sangat berbahaya,” berkata Kiai Gringsing di
dalam hatinya. “Apalagi Ki Sumangkar harus menghadapi tiga orang lawan yang
cukup tangguh.”
Karena itu, Kiai Gringsing tidak dapat memperpanjang waktu
lagi. Tiba-tiba cambuknya menggelepar dan sekaligus dua orang lawannya memekik
kesakitan. Ketika cambuknya sekali lagi meledak seorang di antara
lawan-lawannya itu terlempar dan jatuh pingsan. Kedua lawannya yang lain
menjadi terkejut melihat akibat senjata yang dahsyat itu. Tetapi mereka tidak
mendapat kesempatan. Selagi mereka termangu-mangu, maka cambuk itu telah
menghantam punggung keduanya hampir bersamaan. Sekali lagi keduanya terdorong
ke samping. Dengan susah payah mereka berusaha mempertahankan keseimbangan
mereka. Namun semua usaha itu sama sekali tidak berarti. Dengan dahsyatnya Kiai
Gringsing menekan, lawannya tanpa memberi kesempatan apa pun. Cambuknya
terdengar meledak kembali, dan kedua orang lawannya itu pun terlempar jatuh,
dan keduanya menjadi pingsan pula.
Kini Kiai Gringsing telah berdiri bebas. Sejenak ia menarik
nafas dalam-dalam sambil melihat, bagaimana Sumangkar dengan susah payah
berusaha mempertahankan diri.
Melawan keris beracun itu Sumangkar tidak dapat sekedar
memperpanjang waktu dan menunggu lawan-lawannya menjadi lelah. Untuk mengurangi
tekanan lawan, maka ia pun kemudian harus mengambil sikap yang dapat
mempengaruhi jalan pertempuran itu.
Dengan sepasang trisula kecilnya Sumangkar berusaha
menyerang lawan-lawannya. Yang sebuah diputarnya di atas kepalanya untuk
mempertahankan jarak dari lawannya. Namun apabila sekali-sekali senjata
lawannya berhasil menyusup, maka dengan trisulanya yang lain ia berusaha
melindungi dirinya, terutama dari sentuhan ujung keris Kiai Damar.
Sejenak, Sumangkar berhasil merubah keadaan. Ia tidak lagi
membiarkan dirinya terdesak, agar ia tidak selalu dikejar oleh senjata beracun
itu. Tetapi ialah yang kemudian memegang peran di dalam gerak perkelahian itu,
justru karena ia melihat bahaya yang mengancamnya.
Namun demikian, keris Kiai Damar benar-benar merupakan
senjata yang berbahaya. Setiap kali, hanya dengan susah payah Sumangkar
berhasil menghindar, menangkis dan kadang-kadang mendesak Kiai Damar untuk
meloncat surut. Tetapi di saat lain, bahaya yang sebenarnya hampir-hampir saja
menyentuhnya.
Kiai Gringsing tidak dapat tinggal diam. Ia pun kemudian
mendekati arena perkelahian Sumangkar sambil berkata, “Kiai Dandang Wesi.
Kenapa kau bertempur dengan ragu-ragu. Jangan disesali seandainya terpaksa kau
membunuh mereka. Mereka adalah orang-orang, eh, hantu-hantu yang tidak menurut
perintah rajanya di Alas Mentaok ini.”
Tidak terdengar jawaban sama sekali. Tetapi semuanya menjadi
jelas. Kiai Damar harus melepaskan dua orang kawannya untuk melawan Truna
Podang. Ia sendiri masih tetap bertempur menghadapi Sumangkar dengan senjata
pusakanya.
“Jangankan manusia, jin, peri atau perayangan,” berkata Kiai
Damar, “bahkan gunung akan runtuh dan lautan akan kering tersentuh oleh
pusakaku ini.”
Sumangkar tidak menjawab. Ia sadar, betapa dahsyatnya
kemampuan keris itu.
Namun yang menjawab adalah Kiai Gringsing, “Gunung dan
lautan tidak dapat berusaha menghindar atau menangkis. Tetapi beda dengan Kiai
Dandang Wesi. Itulah sebabnya, maka kau dapat meruntuhkan perlawanannya dan
mengeringkan darahnya.”
Demikianlah akhir dari perkelahian itu segera menjadi jelas.
Kiai Damar tidak sempat menjawab kata-kata Kiai Gringsing, karena Sumangkar
segera menyerangnya.
Tanpa dua orang kawan yang membantunya, ternyata bahwa Kiai
Damar tidak dapat mengimbangi kemampuan Sumangkar, meskipun Kiai Damar
mempergunakan pusakanya yang beracun itu. Ternyata senjata Sumangkar di tangan
orang yang cakap menggerakkannya, terlampau sulit untuk ditembus.
Sejenak kemudian, segera tampak bahwa Kiai Damar terdesak
karenanya. Betapa pun orang itu berusaha, namun Sumangkar adalah seorang tua
yang cukup berpengalaman. Ia adalah seorang yang disegani di Jipang hampir
seperti Patih Mantahun sendiri.
Persoalan yang dihadapi ini benar-benar tidak masuk
perhitungan Kiai Damar. Dengan kawan-kawannya yang lebih dari sepuluh orang itu
ia merasa bahwa ia pasti akan segera dapat menyelesaikan tugasnya. Ia merasa
pasti bahwa ia akan dapat menangkap Truna Podang bersama dua anaknya.
Tetapi yang dihadapinya ternyata jauh berbeda dari
rencananya itu. Truna Podang ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa.
Bahkan kedua anaknya tidak juga dapat dikalahkan oleh masing-masing tiga orang
kawan-kawannya yang terpilih.
“Siapakah mereka itu?” pertanyaan itu telah mengganggu
pikiran Kiai Damar.
Tetapi Kiai Damar sadar, ia tidak boleh hanya sekedar
berteka-teki. Ia harus membuat perhitungan yang semasak-masaknya menghadapi
keadaan ini. Dan Kiai Damar pun menyadari, bahwa ia tidak boleh mengorbankan
semua kawan-kawannya itu untuk suatu tugas yang sia-sia. Tetapi Kiai Damar tidak
juga dapat meninggalkan mereka hidup-hidup, terutama orang-orang terpenting,
karena mereka akan dapat memberikan keterangan tentang keadaan mereka sendiri,
meskipun Kiai Damar sendiri sadar, bahwa orang-orang itu sebenarnya tidak
terlampau banyak yang diketahui. Mereka hanya tahu bahwa Kiai Damar adalah
seorang dukun. Mereka tunduk pada perintahnya, dan barangkali satu dua di
antara mereka tahu, bahwa masih ada orang lain di belakang Kiai Damar, namun
mereka pasti tidak dapat mengatakan tentang orang lain itu.
Kiai Damar menyadari keadaannya itu sepenuhnya. Apalagi
ketika ia mendengar sebuah keluhan yang panjang. Seorang lagi kawannya yang
melawan Kiai Gringsing terlempar ke samping, kemudian jatuh berguling.
“Gila,” desis Kiai Damar. Dan tidak menunggu lebih lama
lagi, ia pun segera mengambil keputusan. Mumpung malam masih panjang. Ia masih
mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu menjelang pagi hari.
“Besok pagi kami akan bertambah sulit. Para pengawas yang
berhasil menerobos pengawasan dan sampai ke pusat Tanah Mataram itu pasti akan
kembali sambil membawa orang-orang baru. Bersama tiga orang gila dan seorang
yang menyebut dirinya bernama Kiai Dandang Wesi, maka sulitlah kiranya, untuk
berbuat sesuatu di sini.”
Tetapi Kiai Damar tidak dapat berbuat banyak. Rencananya
untuk membinasakan tiga orang ini lebih dahulu, dan kemudian orang-orang baru
yang datang besok, ternyata tidak berhasil. Bahkan beberapa orang-orangnya
telah dilumpuhkan.
Maka sejenak kemudian terjadilah sesuatu yang tidak
terduga-duga itu. Kiai Damar yang tidak mau bertempur lebih lama, tiba-tiba
meloncat sambil bersuit nyaring. Tanpa menunggu lagi, ditinggalkannya Ki
Sumangkar.
Tetapi Kiai Damar tidak segera meninggalkan arena. Ia sadar,
bahwa kawan-kawannya pun tidak akan dengan mudah melepaskan diri. Juga
orang-orang yang melawan Kiai Gringsing, yang kini tinggal seorang, dan yang
sebenarnya sudah tidak berdaya sama sekali. Dua orang yang mula-mula bersamanya
melawan Sumangkar adalah orang-orang yang termasuk penting di dalam lingkungannya.
Kedua orang itu mengerti serba sedikit hubungan yang lebih jauh di belakang
Kiai Damar di dalam usahanya menguasai daerah yang sedang dibuka. Tetapi
agaknya usahanya masih jauh dari sasaran. Bahkan untuk menyingkirkan tiga orang
itu pun ia tidak berhasil.
Adalah mengejutkan sekali, bahwa justru pada saat Kiai Damar
meninggalkan arena, ia masih sempat meloncat mendekati kedua kawannya di tanah,
dan yang seorang yang melangkah surut didesak oleh Kiai Gringsing.
Hampir tidak masuk akal, bahwa Kiai Damar itu berlari sambil
menggoreskan ujung kerisnya kepada kedua orang itu. Yang mula-mula dilukainya
adalah orang yang terbaring di tanah sambil mengerang, kemudian sebuah goresan
mengenai tangan kawannya yang justru sedang bertempur melawan Kiai Gringsing.
Sementara itu, kawan-kawannya yang lain pun, telah mencoba
meninggalkan gelanggang. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak sempat
melakukannya. Apalagi tiga orang yang melawan Swandaru. Disaat terakhir,
Swandaru telah mengerahkan segenap kemampuannya, ketika ia mendengar Kiai Damar
bersuit nyaring. Ia tahu benar maksudnya. Karena itu, maka dengan sepenuh
kemampuannya ia telah melumpuhkan tiga orang lawannya tanpa ampun. Ledakan
cambuknya telah mengenai leher, wajah dan yang seorang yang sudah sempat melangkah
lari, telah dijerat kakinya dengan ujung cambuk itu, sehingga ia jatuh
terjerembab. Sebelum ia sempat bangkit, maka ujung cambuk Swandaru telah
membuatnya pingsan.
Hanya seorang saja lawan Agung Sedayu yang berhasil lolos.
Agung Sedayu menjadi ragu-ragu ketika ia mendengar orang itu seakan-akan
merintih mohon ampun. Kalau saja Agung Sedayu tidak dibayangi oleh
keragu-raguannya, ia sempat meraih sebutir batu dan melempar punggung orang
yang kemudian seakan-akan tenggelam di balik dedaunan. Tetapi, tangannya serasa
menjadi sangat berat, ketika ia mendengar orang itu seakan-akan menangis.
Tetapi dua orang lawannya yang lain telah terbaring di
tanah. Yang seorang pingsan sedang yang lain merintih, kesakitan karena
lambungnya sobek oleh karah-karah besi cambuk Agung Sedayu.
Arena pertempuran itu menjadi hening sejenak. Kiai Gringsing
masih dicengkam oleh keheranan dan bahkan terkejut melihat Kiai Damar, yang
dengan keris pusakanya, telah melukai kawan-kawannya sendiri, yang dua orang
itu.
“Yang dua orang ini pasti orang-orang penting,” berkata Kiai
Gringsing di dalam hatinya.
Karena itu, sejenak kemudian Kiai Gringsing menyadari,
betapa pentingnya keterangan dari kedua orang itu, kalau ia berhasil
menyelamatkannya.
Tetapi kedua orang yang telah dilukai oleh Kiai Damar itu
bagaikan orang gila. Keduanya sama sekali tidak menyangka, bahwa justru Kiai
Damar sendirilah yang telah berusaha membunuhnya. Karena itu, terbayang di
wajah keduanya, perasaan marah, kecewa, penyesalan dan dendam yang bercampur
baur, sehingga mereka berteriak-teriak sambil berguling-guling tidak menentu.
Meskipun tubuh mereka menjadi lemah dengan cepatnya, namun seakan-akan mereka
tidak mau menerima kenyataan itu.
“Kiai Damar, tunggu, tunggu aku,” teriak salah seorang dari
mereka sambil meronta-ronta. Sebenarnya ia masih dapat berlari meninggalkan
arena kalau mendapat kesempatan. Tetapi menurut perhitungan Kiai Damar, ia
pasti tidak akan dapat lepas dari tangan Kiai Gringsing yang menyebut dirinya
bernama Truna Podang itu. Karena itu, sambil berlari meninggalkan arena, ia
masih sempat menggoreskan pusakanya. Bagi Kiai Damar, kedua orang yang mengerti
tentang keadaannya, dan beberapa macam persoalan yang menyangkut tentang
dirinya, lebih baik dimusnahkan, apabila memang tidak ada harapan untuk
diselamatkan. Sedang orang-orang lain adalah pengikut-pengikut kecil yang
hampir tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya di dalam lingkungan mereka.
Seandainya ada juga yang mengerti, maka keterangan mereka tidak akan cukup
banyak.
Kiai Gringsing, Sumangkar, Agung Sedayu, dan Swandaru
memandang kedua orang yang sedang diraba oleh maut itu dengan hati yang
berdebar-debar.
Mereka melihat suatu pergulatan yang dahsyat antara
kenyataan dan pemberontakan di dalam diri mereka.
“Marilah, kita mencoba menolong mereka,” berkata Kiai
Gringsing.
Sumangkar menganggukkan kepalanya.
“Cobalah, tahan tubuhnya, agar ia tidak meronta-ronta. Aku
akan berusaha mengobatinya.”
Sumangkar pun kemudian melangkah mendekati salah seorang
dari mereka. Yang seorang itu agaknya masih cukup mempunyai kekuatan untuk
bertahan seandainya ia sempat ditolong. Tetapi karena ia selalu meronta-ronta
maka racun warangan keris itu seakan-akan telah dipercepat menjalari seluruh
tubuhnya.
Dengan hati-hati Sumangkar mendekatinya. Kemudian dengan
cepatnya ia menerkam kedua tangannya dan memeganginya erat-erat.
“Inilah lukanya,” berkata Sumangkar sambil menahan tubuh
orang itu.
Tetapi ia masih tetap meronta-ronta. Sambil berteriak ia
berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi tubuhnya sudah menjadi sangat lemah.
Keringat dingin mengalir seperti terperas dari tubuh itu.
Dengan tergesa-gesa Kiai Gringsing mengambil serbuk obat
dari bumbung kecilnya. Dengan susah payah ditaburkan serbuk itu di atas luka di
tangannya. Namun demikian, Kiai Gringsing sudah tidak berpengharapan lagi. Luka
itu cukup dalam, sehingga racun yang menyusup ke dalam darah pun dengan
cepatnya menjalar ke seluruh tubuh, dan mencengkam jantung.
Kiai Gringsing masih mendengar orang itu berteriak
mengumpat. Tetapi suaranya yang parau seakan-akan hilang di tenggorokan. Namun
semua orang masih sempat mendengar orang itu mencaci maki Kiai Damar yang telah
membunuhnya.
Sejenak kemudian ia pun terdiam. Obat Kiai Gringsing yang
sudah mulai bekerja tidak berhasil menolongnya. Sejenak kemudian ia pun
menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ketika tiba-tiba
ia teringat pada orang yang satu lagi, ia pun segera bangkit pula. Tetapi
keadaan orang itu agaknya lebih buruk lagi dari kawannya. Sebelum Kiai
Gringsing berbuat sesuatu, ia pun telah meninggal pula. Tubuhnya yang memang
sudah terlampau lemah, sama sekali tidak mempunyai daya tahan yang cukup untuk
menahan arus racun dari lukanya keseluruh tubuhnya dan menghentikan detak
jantungnya.
Agung Sedayu dan Swandaru menjadi ngeri melihat peristiwa
itu. Alangkah kejamnya. Mereka dengan hati yang dingin membunuh kawan-kawan
sendiri apabila sudah tidak diperlukan lagi, atau dianggap berbahaya bagi
mereka.
Sumangkar pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan-lahan
ia berdesis, “Mengerikan sekali.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa
disadarinya ia melangkah mendekati orang-orang lain yang masih terbaring di
tanah. Beberapa orang sudah mulai sadar, akan tetapi tubuh mereka terasa sama
sekali tidak bertenaga.
Dari dua belas orang yang datang ke barak itu, dua di antara
mereka sempat melarikan dirinya, yang dua terbunuh oleh kawannya sendiri,
sedang yang lain sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk berbuat sesuatu.
Seorang lawan Swandaru ternyata luka sangat berat dan mengancam jiwanya.
Demikian juga seorang lawan Agung Sedayu yang luka di lambung meskipun ia tidak
pingsan. Sedang lawan-lawan Kiai Gringsing yang pingsan justru tidak berbahaya
bagi jiwa mereka.
“Marilah, kita bawa mereka ke barak,” berkata Kiai
Gringsing.
Sumangkar menganggukkan kepalanya.
Kemudian bertiga bersama Agung Sedayu dan Swandaru,
Sumangkar mengusung orang-orang yang terluka. Sedang Kiai Gringsing tetap
mengawasi keadaan, apabila ada perkembangan baru yang mencemaskan.
Satu demi satu mereka diletakkan di serambi. Sedang
orang-orang yang ada di serambi itu menjadi ketakutan dan menyibak karenanya.
“Jangan takut,” berkata Agung Sedayu, “mereka tidak akan
berbuat apa-apa.”
Tidak ada seorang pun yang menyahut. Tetapi tatapan mata
mereka yang suram, membayangkan kecemasan yang tiada taranya.
Akhirnya, semuanya telah terbaring di serambi barak. Kiai
Gringsing pun telah berada di serambi itu pula. Satu demi satu luka mereka
mendapat pengobatan. Terutama mereka yang luka parah.
Orang-orang di serambi barak yang melihat orang-orang itu
terbaring diam, perlahan-lahan menjadi agak berani juga mendekat. Bahkan salah
seorang dari mereka yang berjongkok di belakang Agung Sedayu bertanya lirih,
“Siapakah mereka itu?”
Sebelum Agung Sedayu menjawab, Swandaru telah mendahului
menyahut, “Coba katakan, siapakah mereka menurut dugaanmu.”
Orang itu tidak segera menyahut. Dipandanginya Swandaru yang
berwajah bulat itu meskipun kini agak susut.
“Tebaklah.”
Orang itu ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab, “Orang itu
adalah korban dari hantu-hantu yang marah itu.”
“He, bukankah ia marah kepada kita di sini?”
“Tetapi orang-orang itu dibawanya dari barak-barak yang lain
di tempat yang lain.”
“Coba terka, ke mana mereka, maksudku hantu-hantu itu
sekarang pargi.”
Orang itu tidak dapat menjawab. Sementara orang-orang lain
yang mendengar pembicaraan itu semuanya memandang Swandaru dengan wajah yang
bertanya-tanya.
“Ke mana? Coba terka ke mana perginya hantu-hantu itu?”
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
Akhirnya Swandaru itu berkata, “Inilah hantu-hantu itu.
Merekalah yang menyebut dirinya hantu-hantu. Mereka pulalah yang sering
menakut-nakuti kalian dengan tengkorak yang dilekati kunang-kunang atau kuda
yang diberi kerincing dikakinya dan dilekati kunang-kunang pula di
bagian-bagian tubuhnya.”
Sejenak orang-orang di serambi barak itu terpaku diam. Namun
kemudian salah seorang berkata, “Tetapi, ada di antara kita yang pernah melihat
hantu-hantu itu.”
Swandaru mengerutkan keningnya sejenak. Tiba-tiba ia berlari
menghambur ke belakang barak itu. Sejenak kemudian ia kembali sambil membawa
sebatang tongkat, dan di ujung tongkat itu ditaruhnya tengkorak yang
ditemukannya di belakang barak itu.
“Inilah hantu itu. Apakah kalian percaya?” bertanya Swandaru
kepada mereka. “Lihatlah, betapa menakutkan hantu-hantu ini. Kemudian mereka
berkerudung hitam. Lihat, kain yang tersangkut di leher Ki Sumangkar itu.
Itu-lah kerudung hantu-hantu itu. Kami telah terlibat dalam perkelahian melawan
hantu-hantu kecil dari Alas Mentaok. Ternyata hantu-hantu tidak lebih dari
orang gila yang mencoba menakut-nakuti kita. Sekarang kalian melihat, apakah
hantu-hantu itu benar-benar menakutkan? Hantu-hantu itu sekarang sudah tidak
berdaya sama sekali.”
Beberapa orang saling berpandangan sejenak.
“Cobalah. Sentuhlah kakinya atau tangannya. Kalian akan
merasa bahwa kalian sama sekali tidak bersentuhan dengan hantu-hantu. Tetapi
kalian akan merasakan kehangatan kulitnya dan denyut nadinya. Hantu-hantu tidak
berdarah, dan karena itu tubuhnya sama sekali tidak mempunyai panas sama
sekali.”
Beberapa orang masih tetap ragu-ragu. Tetapi seorang yang
masih muda merayap maju. Meskipun ragu-ragu juga tetapi tangannya kemudian
dijulurkannya perlahan-lahan.
Tetapi ketika orang yang terbaring dihadapannya itu
menggeliat, ia meloncat mundur.
“Jangan takut.”
Orang-orang yang terbaring karena luka-lukanya itu pun
menjadi berdebar-debar pula. Mereka merasa bahwa berpuluh-puluh pasang mata
memandangi mereka dengan tajamnya, penuh kebencian dan penuh dendam. Apabila
mereka sadar, bahwa yang dihadapinya itu adalah orang-orang yang sudah tidak
berdaya, maka sikap mereka akan dapat membahayakan.
“Sentuhlah,” desis Swandaru.
Sekali lagi orang itu mengulurkan tangannya. Kali ini ia
memaksa dirinya sehingga akhirnya ia menyentuh tangan orang yang sedang
terbaring karena lukanya.
“Nah, apa katamu.”
Orang itu ragu-ragu sejenak. Kemudian sekali lagi ia
menyentuhnya. Bahkan kemudian tiba-tiba ia mencengkam tangan itu. Dengan
serta-merta tangan itu ditariknya sambil menggeram, “Jadi kau yang menjadi
hantu jadi-jadian itu, he.”
Hampir saja orang itu meremas wajah orang yang sedang
terluka itu. Namun Swandaru yang berdiri di sampingnya dengan cepatnya
menangkap tangannya sambil berkata, “Hantu-hantu itu sudah menjadi jinak.
Jangan kau apa-apakan dia. Biarlah ia menikmati luka-lukanya. Kalau luka-luka
itu sudah sembuh, maka kita akan memeliharanya. Mungkin kita memerlukannya.”
Orang yang hampir saja mencengkam wajah orang yang terluka
itu terpaksa melepaskannya. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “He, orang-orang yang
tinggal di barak ini, yang selama ini telah dibayangi oleh ketakutan terhadap
hantu-hantu. Sekarang kita sudah berhadapan dengan mereka, sehingga karena itu,
apakah yang akan kita lakukan terhadap mereka.”
“Itu pasti akan mereka akui. Baiklah mereka akan kita
serahkan saja kepada para petugas yang besok akan datang.”
“Tidak. Mereka tidak akan kita serahkan kepada orang lain.
Mereka akan kami adili di sini. Kamilah yang akan menjatuhkan hukuman kepada
mereka.”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia melihat beberapa
orang telah bergerak mendekat. Bahkan orang-orang yang berada di dalam barak
pun telah berdesakan di muka pintu.”
“Ya, serahkan kepada kami. Serahkan kepada kami.”
Sejenak kemudian suasana menjadi semakin tegang. Agung
Sedayu berdiri termangu-mangu. Kiai Gringsing dan Sumangkar pun telah bergeser
mendekatinya pula. Bahkan Kiai Gringsing berbisik ditelinga muridnya,
“Pertahankan. Pertahankan orang-orang itu.”
Agung Sedayu menjadi semakin mantap. Namun sebelum ia
berkata lagi, terdengar suara diambang pintu, “Kalian tidak akan dapat berbuat
apa-apa atas mereka. Akulah pemimpin pengawas di sini. Mereka akan diserahkan
kepadaku dan aku akan menyerahkan mereka kepada atasanku.”
Kini semua orang memandang kepada pemimpin pengawas yang
memaksa dirinya untuk berdiri bersandar tiang pintu.
Sejenak orang-orang itu terdiam. Mereka memandang pengawas
itu sejenak. Namun orang yang marah itu agaknya sulit mengendalikan diri. Salah
seorang dari mereka berteriak, “Kami tidak akan menyerahkan kepada siapa pun
juga. Kami akan mengadilinya sendiri.”
“Itu tidak mungkin. Orang-orang itu akan dibawa ke Mataram.
Kita semuanya sangat memerlukan mereka. Keterangan mereka akan dapat membantu
kita seterusnya.”
“Aku tidak peduli.”
“Ya, kami tidak peduli,” sahut yang lain. Dan yang lain
berteriak, “Bunuh saja. Mereka membuat kita malu dan muak.”
Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Dan tiba-tiba
saja di dalam ketegangan itu, ia tidak melihat Swandaru.
“Kemanakah anak ini pergi?” ia bertanya kepada diri sendiri.
Tetapi agaknya Kiai Gringsing dan Sumangkar pun bertanya-tanya pula di dalam
hati.
“Tidak apa,” terdengar suara Agung Sedayu, “kalian tidak
akan berbuat apa-apa.”
“Tetapi mereka telah menakut-nakuti kami untuk waktu yang
cukup lama sehingga kami telah kehilangan banyak sekali kawan dan kehilangan
banyak waktu.”
“Tetapi kalian tidak akan berbuat apa-apa.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Agung
Sedayu dan orang yang terbaring itu berganti-ganti.
Namun dalam pada itu terkilas dikepalanya, ketakutan yang
selama ini telah merusak semua usaha orang-orang di dalam barak ini. Beberapa
orang telah meninggalkan tempat mencari tempat baru karena mereka tidak dapat
lagi kembali ke tempat mereka yang lama. Kemudian beberapa orang yang lain
tidak lagi berani keluar dari baraknya sehingga lebih baik bekerja saja di
dapur. Dan banyak lagi persoalan yang telah mengungkat kemarahannya. Orang itu
menjadi malu kalau dikenangnya, bagaimana ia bersembunyi di balik selimut
apabila terdengar suara gemerincing dan derap kaki-kaki kuda.
Karena itu, dengan wajah yang kemudian menjadi merah padam
ia berkata, “Orang-orang ini telah membuat kami di sini mengalami banyak sekali
gangguan. Karena itu, serahkanlah mereka kepada kami. Kami akan mengadili
mereka dengan cara kami.”
Permintaan itu telah mengguncangkan jantung orang-orang yang
sedang terbaring diam karena luka-luka mereka. Tetapi yang lukanya tidak begitu
parah perlahan-lahan mencoba mengumpulkan kekuatan yang masih ada. Tentu tidak
menyenangkan sekali jatuh ditangan orang-orang yang sedang marah karena ledakan
perasaan yang sudah lama ditekan.
Beberapa orang merasa, lebih baik lari atau melawan dan
kemudian mati di dalam perlawanan itu apabila tidak berhasil lolos sama sekali,
daripada menjadi permainan.
Tetapi Agung Sedayulah yang menjawab, “Sebaiknya kalian
tidak berbuat apa-apa. Mereka sudah tidak berdaya. Mereka sudah tidak akan
dapat menakut-nakuti kalian lagi.”
“Tetapi mereka pernah melakukannya. Mereka pernah membuat
hati kita kecut sehingga kami kehilangan gairah untuk berbuat sesuatu.”
Namun mereka tidak sempat mencari anak yang gemuk itu.
Mereka kini benar-benar dicengkam oleh kecemasan, bahwa orang-orang di barak
itu tidak dapat dikendalikan lagi.
“Kalian jangan melindungi mereka,” tiba-tiba salah seorang
dari mereka berteriak. Seorang yang bertubuh besar meskipun agak pendek berdiri
di sudut serambi. “Akulah yang akan membunuhnya. Aku telah banyak sekali
dike-cewakan oleh orang-orang gila itu. Aku sudah meninggalkan gubug yang sudah
aku bangun itu untuk beberapa saat dan tidur berjejal-jejal di sini.”
“Kenapa kau berbuat begitu?” bertanya Kiai Gringsing
tiba-tiba.
“Orang-orang itulah yang telah menakut-nakuti kami.”
“Salahmu sendiri bahwa kau menjadi takut.”
“Kalau aku tidak takut, mereka akan membunuh aku.”
“Dan kau, kau, kau dan yang lain lagi, sama sekali tidak
berani melawan, kalian hanya berani bersembunyi. Bahkan menyalahkan kami yang
dengan susah payah berusaha membongkar kejahatan ini. Sekarang, kalian akan
memaksa kami menyerahkan mereka kepada kalian,” jawab Agung Sedayu, “tentu kami
tidak mau. Misalnya orang berburu, kamilah yang mendapat binatang buruan.
Terserah kepada kami, apa yang akan kami lakukan.”
“Tepat,” sahut pemimpin pengawas.
Keadaan menjadi hening sejenak, meskipun wajah-wajah menjadi
semakin tegang. Namun sejenak kemudian meledaklah perasaan yang selama ini
tertekan, “Kami tidak peduli. Kami memerlukan mereka. Kami akan mencincang
mereka di halaman. Siapa yang melindungi, akan kami sertakan pula. Akan kami
cincang pula di antara mereka di halaman.”
“Ya, ambil saja dengan paksa.”
“Bunuh saja.”
Agung Sedayu menjadi bingung. Orang-orang itu bagaikan orang
yang kehilangan kesadaran. Kalau satu dua orang di antara mereka kemudian
berdiri dan maju selangkah, maka keadaan akan menjadi kacau. Mereka tidak
ubahnya dengan orang-orang yang sakit ingatan, yang sama sekali tidak dapat
mengekang dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian, di dalam lingkungan
orang banyak, seseorang akan dapat kehilangan dirinya sendiri. Seseorang akan
dapat berbuat seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya
tanpa memikirkan akibatnya.
Kiai Gringsing dan Sumangkar pun menjadi berdebar-debar
pula. Seperti Agung Sedayu, mereka tidak segera mengerti, apa yang
sebaik-baiknya dikerjakan. Sedang pemimpin pengawas yang berdiri bersandar
pintu pun menjadi bingung pula. Apalagi pemimpin pengawas itu menyadari, betapa
pentingnya keterangan-keterangan yang dapat didengar dari hantu-hantu yang kini
sudah tidak berdaya itu.
“He, kenapa kita menunggu?” bertanya orang yang bertubuh
besar dan pendek.
“Ya, apa yang kita tunggu. Ambil saja mereka semuanya, Kita
cincang bersama-sama.”
“Kalian tidak akan dapat mengambil mereka,” berkata Agung
Sedayu sambil mengurai cambuknya. “Aku sudah bertempur mati-matian melawan
hantu-hantu Alas Mentaok ini. Sebagian dari mereka lari, dan sebagian dapat
kami tangkap. Hantu-hantu itu sama sekali tidak dapat mengalahkan kami. Apalagi
kalian. Ayo, siapakah di antara kalian yang jantan. Majulah lebih dahulu. Siapa
yang akan mencincang mereka dan orang yang melindunginya sama sekali. Akulah
yang melindungi mereka.”
Sejenak orang-orang itu terbungkam. Tetapi suasana yang
panas itu menjadi semakin panas ketika seseorang berkata, “Jumlah kita lipat
sepuluh lebih dari jumlah mereka. Mereka tidak akan dapat menahan arus
kemarahan kita.”
“Kita paksa anak itu.”
“Kami bersenjata,” geram Agung Sedayu.
Sekali lagi orang-orang itu terdiam. Namun kemudian
seseorang berkata, “Tidak peduli. Tangkap mereka.”
Ketika Agung Sedayu melihat sorot mata mereka yang marah,
harapannya untuk dapat menahan arus kemarahan mereka menjadi pudar. Adalah
tidak mungkin baginya bersama guru dan Sumangkar, untuk melayani orang-orang
yang tidak bersenjata itu. Orang-orang bingung yang tidak tahu apa yang harus
mereka lakukan. Kalau ia bersama gurunya dan Sumangkar berbuat sesuatu, maka
akibatnya akan sangat parah bagi orang-orang itu. Tetapi kalau ia tidak berbuat
sesuatu, maka hantu-hantu Alas Mentaok itu akan menjadi korban dan mereka akan
kehilangan sumber keterangan meskipun sedikit.
Sebelum Agung Sedayu berbuat sesuatu, maka ia sudah melihat
satu dua orang mulai bergerak. Dan ia menjadi semakin berdebar-debar ketika
beberapa orang telah berdiri serentak.
“Bagaimana, Guru,” desis Agung Sedayu.
Kiai Gringsing tidak juga segera menjawab. Seperti Sumangkar
ia pun menjadi kebingungan. Apakah yang sebaiknya dilakukan. Kalau ia terpaksa
mempergunakan kekerasan, maka akibatnya sama sekali tidak dikehendakinya.
Selama ini ia berbuat sesuatu, yang dapat membahayakan jiwanya, justru untuk
kepentingan orang-orang itu. Tetapi kini orang-orang itu justru marah
kepadanya.
Sebelum Kiai Gringsing menemukan cara yang sebaik-baiknya,
maka meledaklah kemarahan orang-orang di dalam barak itu. Beberapa orang hampir
berbareng berdiri sambil berteriak, “Ambil, ambil saja.”
“Tidak,” tiba-tiba Agung Sedayu berteriak untuk mengatasi
suara riuh mereka. Dan hampir berbareng dengan itu, orang-orang yang merasa
dirinya masih mampu bangkit, tiba-tiba pula telah mencoba bangkit pula
perlahan-lahan.
Ternyata beberapa orang yang bergerak-gerak, dan kemudian
duduk di serambi sambil menyeringai itu berpengaruh. Apalagi ketika salah
seorang dari mereka berdiri dengan terhuyung-huyung.
Agung Sedayu melihat gelagat itu. Karena itu, maka ia
berkata, “Mereka tidak rela menyerahkan diri mereka kepada kalian. Ternyata
salah seorang dari mereka telah bangkit berdiri. Sebentar lagi semuanya akan
berdiri dan aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.”
Serambi itu menjadi hening.
Agung Sedayu melihat sorot mata keragu-raguan di setiap
wajah. Orang-orang dibarak itu sejenak memandang Agung Sedayu, sejenak kemudian
gurunya dan Sumangkar, lalu sesosok tubuh yang kemudian berdiri meskipun
pakaiannya telah bernoda darah.
Tetapi selagi mereka ragu-ragu, salah seorang berkata
lantang, “Kenapa kita ragu-ragu, kenapa? Mereka sudah tidak berdaya.
Orang-orang yang melindungi mereka itu pun juga tidak berdaya.”
“Ya, mereka sudah tidak berdaya.”
“Mereka sudah tidak akan dapat melawan. Cepat, cincang
saja…”
Sekali lagi orang-orang di dalam barak itu mulai bergerak.
Agung Sedayu yang kebingungan, tiba-tiba saja telah menggerakkan cambuknya,
sehingga suara ledakan yang memekakkan telinga telah menyobek malam yang panas.
Kejutan suara cambuk Agung Sedayu memang membuat mereka
tertegun. Tetapi tidak membuat mereka surut. Mereka masih bergerak pula
mendekati orang-orang yang masih sangat lemah itu.
Agung Sedayu benar-benar telah kehabisan akal. Gurunya dan
Sumangkar pun masih belum menemukan jalan sama sekali.
Namun selagi suasana memanjat menjadi semakin panas,
tiba-tiba setiap telinga tergerak ketika tiba-tiba mereka mendengar suara
gemerincing. Semakin lama semakin dekat. Suara gemerincing seperti yang selalu
mereka dengar sela-ma ini. Suara hantu-hantu dari Alas Mentaok.
Tiba-tiba terasa bulu kuduk orang-orang yang sedang marah
itu meremang. Semakin keras suara itu, mereka pun menjadi semakin berkerut.
“Hantu-hantu yang lain telah datang lagi,” desis Agung
Sedayu.
Serambi barak yang hampir saja direnggut oleh udara maut itu
tiba-tiba menjadi hening. Namun terasa setiap dada menjadi tegang.
Beberapa orang yang semula berdiri dengan garangnya,
tiba-tiba melangkah surut dan perlahan-lahan berkerut berdesakan. Beberapa
orang segera membaringkan dirinya dan berselimut kain sampai ke ujung
kepalanya. Sedang beberapa orang yang lain membeku di tempatnya.
“Hantu-hantu itu datang lagi,” sekali lagi Agung Sedayu
berdesis, “kali ini pasti lebih banyak. Mereka pasti akan mengambil
kawan-kawannya yang sudah kamanungsan, dan membuat mereka menjadi hantu
kembali.”
Orang-orang yang mendengar kata-kata Agung Sedayu menjadi
semakin kecut. Kini mereka telah kehilangan segala kemauan dan bahkan
seolah-olah mereka telah kehilangan kesadaran. Wajah-wajah mereka menjadi pucat
dan bibir mereka bergetar.
“Nah, siapakah yang masih akan mencincang hantu-hantu ini,”
bertanya Agung Sedayu. “Tetapi jelas bukan aku, bukan ayah dan bukan pamanku
yang baru sore ini datang. Ayo, siapa?”
Tidak ada seorang pun yang berani menyahut.
“Tetapi hantu-hantu yang kamanungsan itu pasti dapat
berceritera, siapakah yang akan mencincang mereka apabila kawan-kawannya yang lebih
kuat akan datang, yang barangkali tidak akan terlawan lagi oleh kami.”
Setiap dada serasa hampir retak oleh ketakutan yang
bergejolak. Apalagi ketika suara gemerincing itu menjadi semakin dekat. Dekat
sekali di samping barak.
“He, kenapa kalian bersembunyi di balik selimut?” bertanya
Agung Sedayu. “Apakah kalian sudah kehilangan kegarangan kalian? Kalian akan
mencincang siapa saja, termasuk mereka yang akan melindungi hantu-hantu yang
sudah kamanungsan itu. Sekarang kawan-kawan mereka pasti akan melindungi dan
membuat mereka kembali ke dalam dunia mereka. Dunia hantu. Kenapa kalian tidak
menyingsingkan lengan baju kalian dan mencincang hantu-hantu yang lain itu.”
Sama sekali tidak ada jawaban. Tetapi serasa darah
orang-orang di serambi itu sudah tidak mengalir lagi.
Tiba-tiba mereka mendengar Agung Sedayu menahan suara
tertawanya. Tetapi agaknya Swandaru tidak dapat, sehingga tiba-tiba meledaklah
suara tertawanya berkepanjangan.
Tetapi bagi orang-orang yang ketakutan itu, suara tertawa
Swandaru terdengar sangat mengerikan. Seolah-olah berpuluh-puluh hantu telah
tertawa bersama-sama melihat bakal korban mereka telah meringkuk di bawah kain
panjang masing-masing.
“He, lihat. Lihatlah, siapa aku,” teriak Swandaru yang
membawa sebatang tongkat yang digantungi beberapa kerincing. Setiap kali
tongkat itu dihentakkan di atas tanah, maka terdengar suara gemerincing dari
beberapa buah kerincing yang bergantungan pada tongkat itu.
Tetapi tidak seorang pun yang berani membuka kerudung kain
panjang mereka yang menutupi kepala. Baik mereka yang sudah melingkar berbaring
di lantai atau di mana saja mereka sempat, atau mereka yang masih tidak sempat
berbaring dan duduk memeluk lututnya, membenamkan kepalanya di bawah tangannya
sambil berselubung kain panjang.
“Lihat aku,” teriak Swandaru sambil mengguncang guncang
tongkatnya. Bahkan kemudian tongkatnya telah dihentak-hentakkan di atas
beberapa kepala yang tersembunyi.
“Buka selimutmu, lihat aku.”
Tetapi tidak ada seorang pun yang berani. Bahkan ketika
ujung tongkat itu menyentuh seseorang, maka orang itu pun segera jatuh pingsan.
Orang itu merasa, seolah-olah ujung jari mautlah yang telah merabanya.
Swandaru akhirnya menjadi jengkel. Karena tidak ada seorang
pun yang mau melihatnya, tiba-tiba tangannya terjulur dan menarik dengan paksa
beberapa lembar selimut yang menyelimuti orang-orang yang ketakutan.
Satu dua di antara mereka masih tetap menyembunyikan
wajahnya. Tetapi yang lain kemudian jatuh terguling dan pingsan pula.
Namun demikian ada juga satu dua orang yang dengan terpaksa
sekali melihat tongkat yang diacu-acukan Swandaru. Sesaat ia tidak percaya
kepada penglihatannya. Namun sambil menyembunyikan wajah mereka, beberapa orang
itu berusaha melihat dari sela-sela lingkaran tangan mereka.
Dan yang mereka lihat memang Swandaru mengguncang-guncang
sebatang tongkat yang digayuti oleh beberapa buah kerincing.
Dengan ragu-ragu satu dua orang mengangkat wajah mereka.
Yang mereka lihat sama sekali tidak berubah. Anak Truna Podang yang gemuk
itulah yang bermain-main dengan kerincing.
Tiba-tiba seseorang di antara mereka bertanya, “Apakah kau
anak Truna Podang?”
“Siapa, siapa aku. Coba tebak? Apakah kau sangka aku sesosok
hantu yang membentuk diriku seperti anak Truna Podang?”
“Tetapi?” orang itu ragu-ragu.
“Akulah yang sejak tadi bermain dengan kerincing-kerincing
ini. Apakah kalian tahu maksudku?”
Tidak ada yang menjawab. Meskipun demikian satu dua orang
kini telah membuka kerudung mereka meskipun dengan ragu-ragu.
“Aku ingin melihat, apakah benar-benar kalian orang-orang
jantan. Kalian berniat ingin mengadili orang-orang yang terluka itu. Tetapi
apakah kalian benar-benar berhak?”
Sejenak suasana menjadi sepi. Beberapa orang yang telah
berani membuka kerudung mereka saling berpandangan. Bahkan beberapa orang yang
berbaring melingkar, telah bangkit dan duduk termangu-mangu.
Mula-mula mereka sama sekali tidak tahu, bagaimana
menanggapi keadaan itu. Mereka hanya memandang saja Swandaru yang berdiri
sambil memegangi tongkat yang digantungi kerincing-kerincing itu.
Namun sejenak kemudian orang yang besar agak pendek itulah
yang berteriak untuk pertama kali, “He anak gila. Kau telah mempermainkan aku,
mempermainkan kami.”
Swandaru mengerutkan keningnya. Sebelum ia menyahut orang
yang lain telah berteriak pula, “Ya. Kau mempermainkan kami.”
“Apa maksudmu mempermainkan kami?” bertanya yang lain.
Dan tiba-tiba orang yang pendek itu berkata, “Kalian memang
orang-orang gila. Sekarang sudah jelas bagi kami, bahwa kami selama ini telah
dipermainkan orang. Bahkan selagi kami dicengkam oleh ketegangan kali ini pun
ada juga orang yang mempermainkan kami. Sekarang kami akan menuntut balas. Kami
akan memuaskan hati kami yang selama ini tertekan.”
Suasana di serambi barak itu menjadi semakin tegang. Namun
tiba-tiba semua orang telah dikejutkan oleh suara tertawa Swandaru yang
meledak. Sambil menunjuk kepada orang yang pendek itu ia berkata, “He, kenapa
kau dapat dipermainkan orang? Kenapa? Apalagi untuk waktu yang lama?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Sebelum ia menjawab,
Swandaru telah mendahului, “Karena kau penakut. Semua orang yang ada di barak
ini penakut dan pengecut. Aku masih menghormati seorang penakut yang merasa
dirinya penakut. Tetapi kau tidak. Kau adalah seorang penakut, tetapi juga
pengecut. Di dalam keadaan yang gawat, kau sembunyi di bawah selimutmu
rapat-rapat. Tetapi kalau kau menghadapi orang-orang sakit yang hampir mati,
kau bertolak pinggang seperti seorang pahlawan. Ayo, di mana kejantananmu?
Kejantanan bukan berarti berani membunuh orang-orang tidak berdaya. Atau bahkan
yang dengan penuh dendam mencekik lawan-lawan yang memang sudah hampir mati.”
Dan Agung Sedayu pun menyambung, “Bukan pula semata-mata
karena kita berani bertempur dan berani mati. Tetapi kejantanan juga mengandung
segi-segi perikemanusiaan dan pengakuan terhadap kenyataan. Seorang kesatria
sebagai lambang kejantanan bukan semata-mata yang menyandang pedang di
peperangan, yang membunuh musuh dengan ujung senjata dan membelah dada lawan
tanpa berpaling. Tetapi sifat-sifat kesatria adalah ngabehi. Meliputi
sifat-sifat baik yang menyeluruh. Kesatria jantan bukan saja berjiwa seluas
lautan yang mampu menampung semua persoalan dan selapang langit yang menyerap
semua masalah dengan kesabaran.”
Sejenak serambi itu menjadi sepi. Orang-orang yang mendengar
kata-kata Agung Sedayu itu menundukkan kepalanya. Tetapi bukan saja orang-orang
itu yang mendengarkannya dengan sentuhan-sentuhan di dalam hati. Bahkan
Swandaru pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ada beberapa perbedaan dari
kata-kata Agung Sedayu itu dengan kata-kata yang akan diucapkannya. Namun ia
bahkan ikut mencoba memahami kata-kata Agung Sedayu itu.
Tanpa sesadarnya Swandaru berpaling, memandang wajah
gurunya. Tetapi gurunya tidak sedang memandanginya. Orang tua itu sedang
mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan membenarkan kata-kata Agung Sedayu
itu.
“Untunglah, aku belum mengatakannya,” desis Swandaru di
dalam hati. Hampir saja ia mengatakan, “Bahwa seseorang yang jantan, adalah
seseorang yang berani menengadahkan dadanya. Yang berani bertempur seorang
lawan seorang dalam keadaan yang seimbang. Bukan melawan orang-orang sakit dan
hampir mati. Yang dengan jujur membunuh musuhnya berhadapan.”
“Itu hanya sebagian saja,” Swandaru mengangguk-angguk
sendiri oleh kata-katanya di dalam hatinya itu. “Agaknya apa yang akan aku
katakan memang kurang lengkap.”
Orang-orang diserambi barak itu mematung sejenak. Kata-kata
Agung Sedayu agaknya benar-benar telah menusuk langsung ke pusat jantung.
“Nah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sekarang cobalah
lihat. Apakah yang sudah terjadi atas kalian dan apa yang sekarang kalian
hadapi. Kalau memang menurut pertimbangan kalian, orang-orang jantan yang
bersifat kesatria, orang-orang yang sudah tidak berdaya ini harus dibunuh atau dicincang,
demikian pula orang-orang yang kalian anggap melindungi mereka, maka aku akan
mempersilahkan. Cincanglah mereka yang selama ini telah mengganggu kalian dan
membuat kalian ketakutan seperti kelinci mendengar gonggong anjing liar di
hutan-hutan.”
Tidak ada seorang pun yang menyahut.
Kiai Gringsing dan Sumangkar yang berdiri di sebelah Agung
Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya muridnya yang tua ini memiliki
ketajaman sikap menghadapi ketegangan yang sudah memuncak, meskipun agaknya
Swandaru pun akan dapat mengatasinya dengan caranya sendiri. Tetapi Kiai
Gringsing semakin melihat perbedaan sifat dari keduanya. Keduanya mempunyai
kelebihan masing-masing tetapi juga kekurangan masing-masing.
Karena tidak seorang pun yang berkata sepatah kata pun, maka
Agung Sedayu meneruskan, “Sekarang, bagaimana? Apakah kalian akan melangsungkan
niat kalian.”
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya
dengan nada yang rendah, “Baiklah. Terserahlah kepada kalian. Kalau kalian
masih ingin melakukannya, silahkan, sekarang juga. Kalau tidak, aku silahkan
kalian kembali ke tempat kalian masing-masing. Sebentar lagi fajar akan datang.
Kalau masalah ini tidak segera kita selesaikan, maka kita akan menghadapi persoalan
yang lain. Apalagi matahari telah terbit, kita akan menunggu kedatangan para
pengawas dari pusat Tanah Mataram. Apabila utusan kita sampai ke tujuan, mereka
pasti akan kembali besok pagi.”
Sejenak Agung Sedayu menunggu, karena tidak ada yang bergerak
sekali lagi ia berkata, “Apa pun yang akan terjadi, lakukanlah sekarang.
Cepat.”
Tetapi tidak seorang pun yang segera beranjak dari
tempatnya. Apakah mereka akan meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat
masing-masing, atau mereka akan melakukan niatnya, membalas sakit hati setelah
sekian lama mereka merasa dipermainkan.
Karena itu sekali lagi Agung Sedayu berkata agak keras, “He,
kenapa kalian hanya berdiam diri dengan mulut ternganga. Berbuatlah sesuatu
supaya kami dapat mengambil sikap. Apa yang akan kalian lakukan, lakukanlah.
Sesegera, sebelum kami membuat keputusan baru. Bergeraklah. Membalas dendam
atau kembali ke tempat masing-masing.”
Ketika Agung Sedayu melihat beberapa orang yang kemudian
bergerak, ia pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu pasti, apakah yang akan
mereka lakukan.
Tetapi ketika orang-orang itu mulai berdiri dengan kepala
tunduk, Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang-orang itu
menyadari diri mereka, dan perlahan-lahan mereka berjalan ke tempat masing-masing.
Kiai Gringsing, Sumangkar, dan Swandaru pun kemudian
mengangguk-anggukkan kepala mereka pula. Sejenak mereka saling berpandangan.
Swandaru yang masih memegang tongkat berkerincing itu
kemudian mengangguk-angguk sambil memandangi orang-orang bergeser dari tempat
masing-masing perlahan-lahan. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia
berdesis, “Benda-benda macam inilah yang telah membuat kalian selama ini
kehilangan kepribadian, kehilangan kesempatan dan bahkan seakan-akan telah
kehilangan harapan. Sebenarnya benda ini adalah benda yang sederhana sekali.
Tongkat yang digantungi dengan kerincing-kerincing. Sebuah tengkorak dan
kerudung hitam. Mungkin juga seekor atau dua ekor kuda. Selebihnya, yang paling
menakutkan adalah hati kalian sendiri. Kalian sendirilah yang membuat
benda-benda sederhana ini menjadi hantu-hantu Alas Mentaok.”
Tidak ada yang menyahut. Tetapi kata-kata yang dilontarkan
sambil tersenyum-senyum itu ternyata mampu juga menyentuh perasaan orang-orang
di dalam barak itu. Sebenarnyalah bahwa yang paling menakutkan bagi mereka
adalah hati mereka sendiri. Bayangan-bayangan yang mengerikan yang mereka buat
sendiri.
Sejenak kemudian, orang-orang di serambi itu telah duduk di
tempat masing-masing. Orang-orang yang berdesakan di pintu pun telah duduk pula
di dalam sambil menekurkan kepala mereka.
Pengawas yang masih bersandar pintu itu pun menarik nafas
dalam-dalam. Dengan susah payah ia berjalan berpegangan dinding, mendekati
Agung Sedayu. Kemudian ditepuknya bahunya sambil berkata, “Kau berhasil, Anak
Muda. Aku sudah kehabisan akal. Aku cemas, apabila orang-orang yang bodoh ini
berkeras kepala, dan kalian bertahan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan
kalian kepada para pengawas apabila mereka datang. Aku sudah membayangkan,
apabila terjadi benturan yang tidak dapat dihindarkan, korban pasti akan
bertambah. Ujung cambuk kalian yang seperti mempunyai mata itu, benar-benar
sangat berbahaya.”
Agung Sedayu tersenyum sambil menyahut, “Terima kasih.
Pujian itu terlampau berlebih-lebihan.”
“Aku berkata sebenarnya.”
Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Ia memandang orang yang
terakhir duduk di tempatnya. Kemudian menundukkan kepalanya.
“Mereka telah kembali ke tempat masing-masing,” berkata
pemimpin pengawas itu.
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
kemudian kepada orang itu, “Terima kasih. Kalian ternyata telah membantu kami,
memelihara ketenangan di dalam barak ini. Sekarang, biarlah orang-orang yang
terluka ini dapat beristirahat dengan tenang, tugas kami di sini tinggal mengawasi.
Kami minta bantuan kalian, agar kalian ikut serta menjaga orang-orang ini, agar
tidak seorang pun yang dapat lolos. Kita besok akan menyerahkan mereka kepada
para pengawas yang akan datang dari pusat pemerintahan Mataram.”
Orang-orang itu masih menundukkan kepala mereka.
“Nah, baiklah. Kita anggap semua persoalan kini sudah
selesai. Persoalan berikutnya adalah persoalan para petugas dari Mataram dan
pemimpin pengawas di sini.”
Orang-orang itu masih menundukkan kepalanya,
“Sekarang, apabila masih sempat, silahkan beristirahat.
Kalian dapat tidur nyenyak menghabiskan malam yang tinggal sedikit. Kami pun
akan tidur pula. Besok kami akan minta bantuan kalian, mengubur mayat yang kini
masih ada di belakang barak ini.”
“Mayat?” orang-orang itu bertanya di dalam hatinya.
Meskipun pertanyaan itu tidak diucapkan, Agung Sedayu
menangkap sorot mata mereka, katanya, “Ya, dua sosok mayat. Di antara
hantu-hantu itu ada yang terbunuh. Dan dengan demikian akan semakin jelas bagi
kalian, bahwa sebenarnya mereka adalah manusia yang terdiri dari daging dan
tulang seperti kita. Sama sekali bukan hantu dari Alas Mentaok seperti yang
kalian percaya saat ini. Kalau aku berkerudung sambil membawa tengkorak yang
dilekati dengan kunang-kunang itu, kalian pasti tidak akan ketakutan, karena
seperti yang dikatakan oleh adikku itu, ketakutan itu datang dari diri kita
sendiri. Sekarang, kalian pun sudah tahu dengan pasti, sehingga kalian tidak
akan takut lagi mendengar suara gemerincing, suara derap kaki kuda, dari melihat
di dalam gelapnya malam, sesosok hantu hitam berkepala tengkorak. Karena mereka
adalah orang-orang yang kini terbaring di hadapan kalian karena luka-luka
mereka.”
Orang-orang di dalam barak itu merasa diri mereka semakin
kecil. Namun seolah-olah mereka telah mengucapkan janji, bahwa mereka tidak
akan terperosok untuk kedua kalinya ke dalam keadaan yang memalukan itu. Mereka
tidak akan mau lagi menjadi permainan siapa pun juga. Mereka datang untuk
membuka hutan. Dan kini harapan itu seakan-akan telah terbit kembali.
“Sudahlah, tidurlah,” berkata Agung Sedayu kemudian.
Bersama dengan Swandaru, Kiai Gringsing, Sumangkar, dan
pemimpin pengawas itu, mereka menepi dan duduk bersandar dinding.
Tetapi ternyata mereka tidak mendapat kesempatan cukup untuk
beristirahat. Langit di sebelah Timur pun mulai menjadi kemerah-merahah.
“Hampir pagi,” desis Swandaru.
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Tidurlah kalau kau lelah. Masih ada waktu sedikit sebelum matahari terbit.”
“Apakah Guru tidak beristirahat?”
“Tidurlah kau berdua. Aku dan pamanmu Sumangkar akan duduk
di sini. Waktu yang sedikit ini menyimpan bermacam-macam kemungkinan bagi barak
ini.” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Dipandanginya wajah pemimpin pengawas
yang berkerut-merut. Kemudian wajah Agung Sedayu dan Sumangkar. Lalu
perlahan-lahan ia meneruskan, “Pagi ini akan dapat menjadi pagi yang cerah dan
tenang. Tetapi saat-saat ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Kalau Kiai
Damar menyadari bahwa kehadiran para pengawas dari Mataram menjadi semakin
dekat, maka ada kemungkinan mereka mempergunakan waktu yang pendek ini
sebaik-baiknya.”
Swandaru dan Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sedang
pemimpin pengawas itu beringsut mendekat, “Benarkah begitu?”
“Ini hanya suatu kemungkinan. Tetapi kemungkinan yang lain
adalah, bahwa mereka belum siap melakukan hal itu dan menundanya sampai waktu
yang tidak dapat kita perhitungkan. Jika demikian kita akan dapat beristirahat
untuk beberapa hari. Mereka pasti memerlukan waktu untuk mengetahui kekuatan
para pengawas di daerah ini.”
Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Aku mengharap bahwa setelah sembuh aku akan tetap diperkenankan
tinggal di daerah ini, meskipun karena selama ini aku sudah gagal, aku tidak
lagi menjadi tetua para pengawas. Aku puas apabila aku dapat melihat akhir dari
permainan yang gila itu.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Mudah-mudahan. Mudah-mudahan kau akan tetap berada di sini. Kau adalah salah
seorang yang telah mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Mengenal perkembangan
keadaan dan masa-masa yang paling pahit di daerah ini.”
“Tetapi aku gagal mengatasi kesulitan. Usaha perluasan tanah
garapan di sini menjadi sangat mundur. Bahkan aku pun telah terseret ke dalam
suatu keadaan yang memalukan sekali. Aku sama sekali tidak berdaya melawan
hantu-hantu itu, meskipun ternyata mereka sama sekali tidak berbeda dengan kita
yang berkulit dan daging.”
“Meskipun kau tahu akan hal itu, tetapi memang sulit untuk
melawan mereka. Ternyata jumlah mereka cukup banyak. Hari ini lebih dari
sepuluh orang telah datang. Aku kira, di tempat persembunyian mereka, masih ada
orang-orang yang lebih banyak lagi.”
“Kita dapat bertanya kepada orang-orang yang terluka itu.”
“Ya. Kita akan mendapatkan beberapa keterangan dari mereka
meskipun tidak banyak. Besok kalau luka-luka mereka telah tidak membahayakan
jiwanya, kita akan dapat mendengarnya.”
Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
Agung Sedayu berbisik, “Guru, apakah tidak mungkin mereka akan berbuat seperti
orang yang kita simpan di dapur itu?”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Mungkin. Memang
mungkin sekali.”
“Apakah yang dilakukan?” bertanya Sumangkar.
“Mereka membunuh kawan mereka sendiri sebelum melarikan
diri. Maksudnya sudah jelas, agar kawannya tidak dapat memberikan penjelasan.”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Kiai Gringsing
pun berkata, “Karena itu, kita akan mengawasi mereka sebaik-baiknya. Apabila
besok para pengawal itu benar-benar datang, kita akan mendapat banyak kawan
untuk melakukannya.”
Agung Sedayu meng-angguk-anggukkan kepalanya. “Ya
mudah-mudahan mereka benar-benar datang besok.”
“Bagaimana kalau tidak?” desis Swandaru,
“Kau yang akan menjaga mereka sepanjang hari.”
“Kau?”
“Aku akan tidur.”
Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian di
sandarkannya tubuhnya pada dinding barak sambil memejamkan matanya, “Aku yang
akan tidur lebih dahulu.”
Agung Sedayu memandanginya sejenak. Namun kemudian sambil
menarik nafas dalam-dalam ia berdesah, “Matahari sudah akan terbit.”
Dalam pada itu, perlahan-lahan langit menjadi semakin merah.
Ternyata sampai saatnya pagi mulai memancar, tidak terjadi sesuatu, meskipun
itu bukan berarti bahwa bahaya telah dapat diabaikan. Kemungkinan orang-orang
itu datang di siang hari pun ada, apalagi setelah mereka tidak berhasil
menakut-nakuti dengan kedok hantu-hantu Alas Mentaok. Mereka tidak dapat
memilih jalan lain daripada menyatakan diri mereka sewajarnya.
Meskipun demikian, suasana pagi yang cerah telah membuat
ketegangan-ketegangan di dalam barak itu menjadi agak mereda. Beberapa orang
telah berani keluar dari dalam barak, mengambil air di sumur. Apalagi karena
Kiai Gringsing berkata kepada mereka, “Sekarang kalian tahu, kalau kalian menjumpai
apa pun, itu adalah manusia-manusia biasa seperti kita. Tinggal tergantung
kepada kita sendiri. Apakah kita seorang penakut atau bukan.”
Demikianlah perlahan-lahan barak itu seakan-akan terbangun
dari tidurnya. Agung Sedayu dan Swandaru pun segera pergi ke barak yang lain
untuk menenangkan ketegangan yang ada di dalam barak itu. Meskipun tidak pasti
bagi mereka, apakah yang terjadi, tetapi hati mereka telah dicengkam olen
kecemasan sepanjang malam.
Sumangkar dan Kiai Gringsing bergantian pergi mengambil air
untuk membersihkan diri. Mereka masih harus mengawasi orang yang meskipun
terluka, tetapi ada di antara mereka yang sudah dapat bangkit berdiri dan
berjalan meskipun lemah.
Ketika hari menjadi semakin terang, orang-orang di dalam
barak itu dengan diam-diam, memerlukan memperhatikan orang-orang yang terluka
yang selama itu mereka sangka hantu-hantu.
Ternyata mereka adalah orang-orang biasa. Orang-orang yang
mempunyai wadag seperti mereka sendiri. Tangan, kaki, kepala, dan
anggauta-anggauta badan yang lain.
Kadang-kadang terasa juga hati mereka melonjak. Darah mereka
merasa panas apabila mereka mengenangkan, apa saja yang pernah mereka alami di
dalam barak itu. Tetapi mereka tidak berani melanggar pesan Agung Sedayu, dan
agaknya mereka pun masih juga mempunyai harga diri, untuk tidak bertindak kasar
terhadap orang-orang yang sudah tidak berdaya.
Ketika matahari sudah menjadi semakin tinggi. Kiai Gringsing
telah memanggil Agung Sedayu dan Swandaru, “Kedua mayat yang masih ada di
belakang barak itu harus dikuburkan.”
“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “tunggulah di sini.
Orang-orang itu masih memerlukan pengawasan. Aku akan mengubur kedua orang di
belakang barak itu.”
Ki Sumangkar mengangguk sambil menjawab, “Silahkan.
Mudah-mudahan aku tidak tertidur.”
Mereka pun kemudian mengajak beberapa orang untuk pergi ke
belakang barak. Orang-orang yang ikut dengan Kiai Gringsing itu menjadi
berdebar-debar. Meskipun mereka tidak melihat, tetapi berdasarkan pendengaran
mereka semalam dan bekas-bekas yang mereka jumpai kini, terasa dada mereka
tergetar. Alangkah dahsyatnya perkelahian itu. Pohon-pohon perdu bertebaran
seperti ditebas. Tanahnya bagaikan dibajak. Bahkan rerumputan pun telah
terungkat beserta akar-akarnya.
“Mengerikan sekali,” seorang berdesis perlahan-lahan.
“Apa?” bertanya yang lain.
“Kau tidak melihat bekas perkelahian ini?”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa juga
bulu-bulu tengkuknya meremang.
Sejenak kemudian mereka pun telah menemukan dua sosok mayat
yang terbaring tidak berjauhan.
“Inilah mereka,” berkata Swandaru. Namun ia pun kemudian
mengerutkan keningnya. Tubuh mayat itu menjadi kebiru-biruan. Wajahnya tegang,
seolah-olah sedang menahan kesakitan yang amat sangat. Kedua belah matanya
terbuka dan jari-jarinya seolah-olah sedang mencengkeram.
“Mengerikan sekali,” desis Swandaru. “Tampaknya mereka telah
dicengkam oleh perasaan sakit yang tidak terhingga.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
kemudian, “Sebenarnya, meskipun perasaan sakit itu juga menjadi sebab
ketakutannya menghadapi maut, namun yang lebih parah dari itu adalah
ketidak-ikhlasannya menjelang tangan maut mencengkam mereka. Mereka menyesal,
kecewa, dan segala macam perasaan sakit, karena sebelum mereka menghembuskan
nafasnya yang penghabisan, mereka menyadari, bahwa ternyata kawan mereka
sendirilah yang telah membunuh mereka dengan semena-mena. Itulah yang membuat
mereka dihantui oleh sentuhan maut itu.”
Swandaru dan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka adalah anak-anak muda yang pernah menyaksikan kematian-kematian di
peperangan. Tetapi kali ini mereka masih juga merasa ngeri. Terbayang dimata
mereka, penderitaan yang tidak terhingga menyertai kematian mereka.
“Racun itu bekerja dengan sempurna,” desis Kiai Gringsing.
Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang
yang menyaksikan pun menjadi ngeri pula. Penderitaan itu terlampau berat.
Demikianlah mereka kemudian menyelenggarakan penguburan
mayat itu secukupnya. Bagaimana pun juga mereka harus memperlakukan mereka
sebagai sesamanya.
Ketika semuanya sudah selesai, maka orang-orang itu pun
kembali ke barak mereka. Mereka duduk-duduk di tangga serambi. Yang mereka
bicarakan adalah orang-orang yang kini masih berada di serambi itu. Sebagian
masih terbaring diam, sedang yang lain duduk bersandar dinding sambil
menundukkan kepala mereka. Mereka merasa seakan-akan setiap mata memandang
mereka dengan tajamnya. Ejekan dan umpatan membayang di wajah-wajah orang yang
berada di sekitarnya.
Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru pun kemudian
duduk pula diserambi itu bersama Ki Sumangkar dan pemimpin pengawas yang masih
belum sembuh benar dari lukanya itu.
Sementara itu sepasukan kecil pengawal berkuda sedang
berpacu melewati jalan-jalan kecil menuju ke hutan yang sedang dibuka dan yang
selalu diganggu oleh hantu-hantu. Sebenarnya hampir di semua daerah, tetapi
yang didiami oleh Ki Truna Pedang itulah yang seakan-akan merupakan letusan
yang paling keras, sehingga perhatian Mataram langsung tertuju ke daerah itu.
Di daerah lain, hantu-hantu masih tetap berkuasa karena
tidak ada orang yang berusaha untuk meyakinkan, bahwa mereka sebenarnya bukan
hantu.
Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya, agaknya
terlampau sibuk, sehingga mereka tidak sempat secara terus-menerus mengawasi
suatu daerah tertentu.
Tetapi kini mereka terpaksa mengkhususkan persoalan yang
mereka hadapi karena ada perkembangan yang khusus pula.
Sekelompok pengawal berkuda itu langsung dipimpin oleh Raden
Sutawijaya sendiri. Di tangannya digenggamnya tombak pusakanya, sedang di
lambungnya terselip keris Kiai Naga Kumala.
Sambil memandang lurus ke depan, Raden Sutawijaya berkuda di
belakang pengawas yang datang memberitahukan apa yang sudah terjadi, sedang di
belakangnya Wanakerti yang sebenarnya masih belum sehat benar, tidak mau
tinggal di Mataram. Bagaimana pun juga ia menyatakan ke-inginannya untuk ikut
serta kembali ke tempat tugasnya.
“Aku ingin melihat akhir ceritera yang mendebarkan itu?”
katanya di dalam hati.
Berdasarkan pengalaman para pengawas yang pergi ke Mataram
untuk menyampaikan laporan itu, maka mereka harus berhati-hati. Meskipun
kelompok itu agak lebih besar dari hanya tiga orang, namun kemungkinan yang
tidak terduga-duga dapat saja terjadi.
Raden Sutawijaya yang diiringi oleh sepuluh, orang pengawas
itu telah mulai menyusup hutan-hutan rindang. Kuda mereka kini tidak dapat
berlari terlampau cepat. Jalan yang sempit itu kadang-kadang tertutup oleh
sampah dan ranting-ranting pepohonan yang patah. Sulur-sulur kayu yang bergayutan
pada dahan-dahan pepohonan telah mengganggu perjalanan itu pula.
Tetapi lebih daripada itu, setiap saat mereka dapat saja
dengan tiba-tiba diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal dan jumlahnya
sama sekali tidak dapat mereka bayangkan. Mereka sama sekali tidak mempunyai
gambaran tentang gerombolan orang-orang yang bersembunyi di dalam hutan yang
lebat itu.
Kadang-kadang dada mereka menjadi berdebar-debar. Meskipun
mereka menyandang pusaka rangkap, tetapi seandainya tiba-tiba mereka dihadapkan
pada sekelompok orang-orang yang ganas itu sebanyak lima puluh orang, apakah
mereka akan dapat melawan.
Tetapi hati mereka menjadi teguh apabila mereka melihat
Raden Sutawijaya yang berkuda di depan mereka, selalu menengadahkan wajahnya
memandang lurus ke depan.
Dalam pada itu, selagi pasukan itu beriringan di dalam hutan
yang tidak begitu lebat, beberapa pasang mata mengikutinya dengan saksama.
Seorang yang bertubuh tinggi kekar dan berjambang lebat mengatupkan giginya
rapat-rapat. Perlahan-lahan ia berdesis kepada orang yang berdiri di
sampingnya. Dan orang itu adalah Kiai Damar, “Sayang, kita tidak membawa orang
cukup untuk menghancurkan mereka.”
“Hati-hatilah,” berkata Kiai Damar, “ternyata daerah Mataram
menyimpan banyak rahasia yang tidak kita ketahui. Kita yang merasa telah
mengenal hutan ini sebaik-baiknya, namun ternyata perhitungan kita masih keliru
juga. Semalam aku telah gagal lagi. Ternyata orang-orang tua yang ada di dalam
barak itu bukan orang-orang kebanyakan. Kau harus membuat perhitungan yang cermat
untuk menentukan sikap di sini.”
“Aku akan menghadap guru,” berkata orang berjambang itu.
Kiai Damar mengerutkan keningnya. Katanya, “Itu akan lebih
baik daripada kita bertindak sendiri. Aku tidak dapat mengimbangi salah seorang
dari dua orang tua-tua yang ada di barak itu. Dan barangkali kau masih harus
menyediakan tenaga sepenuhnya untuk melawan anak-anaknya.”
Orang itu menggeram. Katanya, “Karena itu aku akan menghadap
guru. Tidak ada seorang manusia pun yang akan dapat melawannya. Bahkan seandainya
Ki Gede Pemanahan sendiri akan turun ke gelanggang, maka itu akan berarti
rencananya semakin cepat musnah. Ia tidak akan berhasil menyelesaikan kerja
ini.”
Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mudah-mudahan orang tua itu tidak berkeberatan.”
“Tentu tidak? Bukankah guru juga yang menganjurkan kita
melakukan ini semua? Dan Paman menyetujuinya?”
“Ya,” Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi
menghancurkan mereka bukan penyelesaian yang tuntas. Seandainya Ki Gede
Pemanahan terusir dari Mentaok sekali pun, bahkan terbunuh, maka kau masih akan
menghadapi soal-soal lain.”
“Itu sudah aku perhitungkan, Paman. Maksud Paman, bahwa
kekuasaan Sultan Pajang masih tetap mencakup hutan Mentaok.”
“Ya.”
“Sultan Pajang akan berterima kasih kalau usaha Pemanahan
gagal. Bukankah dengan berat hati Sultan Pajang menyerahkan Mataram kepada
Pemanahan? Kalau Sultan tidak mengingat putera angkatnya itu anak Pema-nahan,
maka aku kira Pemanahan justru sudah digantungnya di alun-alun.”
“Mungkin begitulah kalau kau yang kebetulan menjadi Sultan
Pajang. Seorang Raja tidak akan berbuat demikian. Ia telah berjanji untuk
menyerahkan Pati dan Alas Mentaok kepada mereka yang dapat membunuh Arya
Penangsang. Penjawi sudah mendapatkan Pati, dan wajar sekali kalau Pemanahan
menuntut Bumi Mentaok.”
“Tetapi Sultan juga tahu, bahwa yang membunuh sebenarnya
bukan Pemanahan dan Penjawi, tetapi putera angkatnya itu.”
“Tentu. Tetapi laporan yang diterimanya menyebut bahwa yang
melakukan adalah Penjawi dan Pemanahan. Ia tidak akan dapat ingkar akan
janjinya. Siapa pun yang melakukannya, tetapi keduanya yang menyatakan dirinya
tanpa ada orang lain yang mengemukakan keberatannya.”
“Nah, karena itulah maka kegagalan Pemanahan akan
menyenangkan hatinya. Karena ia memberikan Mataram tidak dengan ikhlas hati.”
“Lalu bagaimana dengan Pati?”
Orang berjambang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak
menyahut.
“Sultan Pajang tidak pernah mempersoalkan Pati. Kenapa ia
berkeberatan atas Mentaok?” bertanya Kiai Damar.
“Mentaok terlampau dekat dengan pusat pemerintahan Pajang.”
“Bukan itu. Tetapi bagi Sultan Pajang, menyerahkan Mentaok
secara resmi tidak ada gunanya, karena akhirnya ia akan memberikan juga
kedudukan kepada anak Pemanahan. Buat apa Pemanahan harus menuntut haknya
apabila kelak akan temurun juga kepada Sutawijaya. Tentu Sultan Pajang menilai
juga hal itu. Tetapi ia pasti tidak akan berkeberatan apabila pada suatu saat
Mentaok dapat menjadi ramai. Bukankah kelak Sutawijaya juga yang akan menjadi
penguasa daerah ini? Apakah kelak ia akan menguasai Mataram sebagai seorang
putera raja yang mewakili kekuasaan ayahnya, atau sebagai seorang adipati,
seperti Sultan Pajang dahulu atau sebagai kepala suatu daerah yang mendapat hak
sebagai tanah perdikan, itu masih belum jelas.”
“Tetapi seperti yang Paman katakan sendiri, Sultan agaknya
memang mencurigai niat Pemanahan. Inilah yang harus dimanfaatkan.”
Kiai Damar merenung sejenak. Keningnya masih juga
berkerut-merut. Tetapi kini iring-iringan yang dipimpin Raden Sutawijaya sudah
menjadi semakin jauh dan hilang di balik rimbunnya dedaunan.
“Bagaimana kau dapat memanfaatkan kecurigaan Sultan Pajang
kepada Ki Gede Pemanahan atau justru kepada putera angkatnya itu?”
“Serahkan kepadaku. Sultan pasti akan segera menggerakkan
senapati muda yang dikuasakan didaerah Selatan ini. Apakah kau kenal dengan
Untara?”
“Orangnya belum. Tetapi namanya sudah. Hampir setiap orang
di daerah Selatan mengenalnya. Menurut pendengaranku, Untara-lah yang
menyelesaikan masalah orang-orang Jipang yang kehilangan pegangan sesudah Arya
Penangsang gugur.”
“Ya. Ia telah berhasil membunuh Tohpati, Macan Kepatihan.”
“Apakah yang dapat dilakukan oleh Untara?”
“Untara adalah seorang senapati. Ia akan menjalankan tugas
yang diperintahkan oleh Sultan Pajang. Ia adalah seorang yang setia. Ia ikut
berjuang menegakkan Pajang.
Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Mudah-mudahan Untara benar-benar seorang senapati yang baik.”
“Tentu.”
“Tetapi,” berkata Kiai Damar, “apa hubungannya dengan usaha
kita sekarang?”
“Kita akan mendesak Sutawijaya. Kita akan melontarkannya ke
luar dari dalam hutan. Dan kita berharap bahwa kita dapat berbuat sesuatu di
istana untuk memancing Untara mendekati pusat pemerintahan tanah yang baru
di-buka ini, sehingga Sutawijaya akan menghadapi kesulitan. Ia harus mengatasi
perlawanan dari dalam hutan ini, yang meskipun agaknya cara kita yang pertama
sudah gagal karena kehadiran orang-orang gila yang menyebut dirinya gembala
itu, tetapi kita akan mencari cara lain, bahkan kalau perlu seperti yang sudah
kita lakukan. Beradu dada. Kita menyerang di setiap saat, kemudian kita akan
menarik diri. Selain itu, Sutawijaya harus selalu berhati-hati menghadapi
pasukan Untara yang mendekati pusat pemerintahan tanah Mataram.”
Kiai Damar mengerutkan keningnya. Ia berpikir sejenak untuk
mencoba mencernakan kata-kata orang berkumis itu. Tetapi kemudian ia berkata,
“Aku kurang mengerti jalan pikiranmu.”
“Paman,” berkata orang itu, “katakanlah bahwa Sultan Pajang
tidak banyak mempunyai tuntutan atas tanah Mataram. Ia sudah memberikan. Tetapi
ia tidak dapat melepaskan kecurigaan itu, kecurigaan atas Ki Gede Pemanahan,
sehingga ia berada di simpang jalan. Ia melepaskan Mataram dengan harapan agar
putera angkatnya dapat mempergunakannya sebaik-baiknya, tetapi juga ia curiga
kalau Mataram kelak justru menjadi besar di bawah Ki Gede Pemanahan.”
Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih
juga berkata, “Ada beberapa perbedaan tangkapan. Tetapi pada dasarnya kau telah
mencoba mengerti pikiranku. Aku juga mengerti jalan pikiranmu. Kau akan
menempuh dua jalan apa pun yang ada di dalam hati Sultan Pajang. Kita harus
dapat meraba-raba. Tetapi kalau kau berhasil, mungkin kau akan mendapat tempat
yang baik. Aku setuju. Tetapi kau harus berhati-hati agar kau tidak terjerumus
ke dalam kesalahan yang dapat membawamu ke tiang gantungan.”
Orang berjambang itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Aku akan selalu minta nasehat guru.”
“Aku tahu, gurumu jugalah yang mempunyai pikiran itu.”
“Ya.”
“Ia adalah orang yang paling benci terhadap Pemanahan justru
karena Pemanahan membuka hutan ini. Mudah-mudahan orang Mangir dapat bekerja
bersama dengan kita di sini.”
Orang berjambang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
Kiai Damar berkata, “Tetapi apakah kau akan segera pergi ke Pajang?”
“Aku akan menunggu sejenak. Kemudian aku akan pergi ke
Pajang lewat Jati Anom. Kalau mungkin aku akan melihat kesiagaan Untara
meskipun aku tidak akan menemuinya. Kalau pada suatu saat aku datang ke Jati
Anom, aku akan membawa perintah dari Pajang kepada, Untara untuk memagari
Mataram dengan pasukan.”
Kiai Damar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku percaya
bahwa kau akan dapat melakukannya. Tetapi kau harus menyesuaikan dirimu setiap
saat ada perubahan tanggapan atas sikap dan pendapat Sultan Pajang.”
Orang itu mengangguk.
“Marilah, kita kembali. Kita melakukan persiapan baru
menghadapi perkembangan keadaan. Kita menyusun rencana dari dalam hutan ini,
sebelum kau berhasil menggiring Untara datang ke pinggir Alas Mentaok.”
Orang-orang itu pun kemudian meninggalkan tempat
persembunyiannya. Kuda-kuda yang mereka intip pun sudah menjadi sangat jauh.
Dalam pada itu Sutawijaya dan pasukannya pun yang kecil itu
maju terus mendekati barak yang telah menarik perhatian itu. Semakin lama
semakin dekat. Ternyata mereka tidak menemui kesulitan apa pun di perjalanan
mereka yang melelahkan.
Derap kaki-kaki kuda yang mendekati barak itu pun segera
didengar oleh orang-orang yang sedang duduk-duduk di sekitar barak mereka.
Agung Sedayu dan Swandaru pun segera bangkit dan turun ke halaman. Banyak
kemungkinan dapat terjadi dengan derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu, ia pun
harus berhati-hati.
Kiai Gringsing dan Sumangkar pun telah berdiri pula di
tangga serambi, sedang beberapa orang yang terluka itu menjadi berdebar-debar
pula. Mereka tahu benar bahwa dua orang kawannya yang terbunuh itu justru mati
oleh ka-wan mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka menjadi sangat cemas, siapa
pun yang datang. Ia cemas kalau yang datang itu para pengawal dari Mataram,
karena mereka akan segera diserahkan untuk mendapatkan hukuman. Tetapi mereka
juga cemas apabila yang datang itu kawan-kawan mereka sendiri.
Sejenak kemudian kuda-kuda itu telah memasuki halaman barak
di pinggir hutan. Dibayangi oleh sebuah senyum di bibirnya, Sutawijaya
memandang Agung Sedayu dan Swandaru yang datang menyongsongnya.
“Aku sudah menduga,” kata-kata itulah yang pertama-tama
diucapkan oleh Sutawijaya.
Tetapi anak muda yang masih di atas punggung kuda itu
mengerutkan keningnya ketika ia melihat Agung Sedayu dan Swandaru membungkukkan
badannya dalam-dalam sambil berkata, “Kami di sini semuanya mengucapkan selamat
datang. Meskipun kami belum mengetahui siapakah Tuan, tetapi kami pasti, bahwa
Tuan adalah salah seorang pemimpin dari Tanah Mataram yang sedang dibuka ini.”
Pengawal yang berkuda di paling depan sudah meloncat dari
kudanya. Ia tidak sempat memikirkan, kenapa Sutawijaya berkata, bahwa ia ‘sudah
menduga’.
“Yang datang adalah puteranya Ki Gede Pemanahan, Raden
Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar,” berkata pengawas itu kepada
Agung Sedayu dan Swandaru.
“Hormat kami berdua bagi Raden Sutawijaya,” berkata Agung
Sedayu dan Swandaru hampir berbareng.
Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hati ia
menggerutu, “Anak-anak ini sudah kejangkitan penyakit gurunya.”
Tetapi Sutawijaya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
Bahkan tiba-tiba ia bertanya, “Di mana ayahmu?”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia tersenyum kecil.
Ternyata Sutawijaya mengerti bahwa ia tidak ingin segera menyebut nama Agung
Sedayu.
“Itulah, Tuan,” jawab Agung Sedayu sambil menunjuk kepada
seorang tua yang berdiri di tangga, di samping Sumangkar.
Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba pula ia
berdesis, “Paman Sumangkar ada di sini pula?”
Agung Sedayu tidak menyahut.
Tetapi Sutawijaya pun kemudian tersenyum. Sambil turun dari
kudanya ia berkata, “Kaliankah yang disebut orang-orang yang bersenjata
cambuk?”
Agung Sedayu mengangguk, “Memang kami adalah keturunan
gembala yang selalu membawa cambuk.”
Sutawijaya menepuk bahu Agung Sedayu sambil berbisik, “Macam
kau. Kenapa kau masih saja suka bermain-main.”
“Kami menghadapi hantu-hantu,” desis Agung Sedayu.
Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam.
Para pengiringnya pun kemudian telah turun pula dari kuda
mereka, dan menambatkannya di halaman. Perlahan-lahan mereka melangkah maju
mendekati barak. Pemimpin pengawas yang terluka dengan susah payah, dibimbing
oleh Kiai Gringsing berusaha untuk menyongsong kedatangan Sutawijaya.
“Kaukah yang terluka?”
“Ya, Tuan,” jawab pemimpin pengawas itu.
“Dan kau gembala tua yang bersenjata cambuk dan berkain
Gringsing itu?”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
menjawab sambil tersenyum pula, “Sampai begitu teliti laporan itu sampai kepada
Tuan. Apakah pengawas itu menyebut bahwa berkain gringsing yang sudah lusuh?”
Sutawijaya tertawa. Tetapi pengawas yang berdiri di
belakangnya, yang membawa laporan kepada putera Pemanahan itu menjadi
terheran-heran. Ia sama sekali tidak menyebutkan pakaian orang tua itu, apalagi
menyebutkan berkain gringsing. Ia hanya mengatakan bahwa gembala itu bersama
dua anaknya bersenjata cambuk.
“Inilah tempat yang ada,” berkata pemimpin pengawas yang
terluka itu. “Kami tidak dapat mempersilahkan pada tempat yang lebih baik.”
Sutawijaya memandang pemimpin pengawas itu sejenak, lalu,
“Agaknya lukamu cukup parah. Beristirahatlah. Jangan kau risaukan tempat untuk
rombongan kami. Kami adalah sama-sama prajurit dan pengawal Tanah yang baru
dibuka ini. Kami harus menyesuaikan diri di dalam segala keadaan.”
Pemimpin pengawas itu menganggukkan kepalanya
“Aku ingin mendengar berita tentang daerah ini. Biarlah
kawanmu yang kemarin datang ke Mataram berceritera tentang perjalanannya yang
sangat berat, sehingga salah seorang dari mereka telah menjadi korban.”
“He?” pemimpin pengawas itu terkejut. Sutawijaya berpaling
kepada pengawas yang datang kepadanya sambil berkata, “Nanti kau ceriterakan
perjalananmu dan Wanakerti kepadanya. Sekarang aku ingin mendengar laporannya
tentang daerah ini.”
Pemimpin pengawas itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Tetapi
kami ingin mempersilahkan Tuan duduk sejenak.”
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kemudian
berjalan ke serambi barak bersama pemimpin pengawas itu, Kiai Gringsing, Agung
Sedayu, Swandaru, dan Sumangkar.
“Apakah kau juga seorang gembala?” bertanya Sutawijaya
kepada Sumangkar sambil tertawa. “Jika kau juga seorang gembala tunjukkan
cambukmu kepadaku.”
Sumangkar tersenyum. Sambil membungkukkan badannya ia
berkata, “Yang aku gembalakan bukan domba, Tuan. Tetapi diriku sendiri.”
Sutawijaya pun tertawa pula.
Ternyata sikap Sutawijaya kepada keempat orang itu membuat
pemimpin pengawas dan para pengawas yang lain menjadi heran. Bahkan orang-orang
yang kemudian berkerumun di bawah tangga serambi pun menjadi heran pula. Tetapi
mereka tidak bertanya apa pun tentang mereka.
Tetapi ketika mata Sutawijaya menyentuh orang-orang yang
terbaring di ujung serambi itu pun ia mengerutkan keningnya. Dan sebelum ia
berkata sesuatu, pemimpin pengawas itu sudah mendahuluinya, “Itulah yang akan
aku laporkan kepada Tuan.”
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kemudian
duduk di serambi itu di atas tikar yang sudah kumal, sedang para pengiringnya
tetap berada di halaman.
Sejenak Sutawijaya masih memandangi orang-orang yang
terbaring di ujung serambi itu. Sedang orang-orang yang terluka itu pun menjadi
semakin cemas karenanya. Yang datang ternyata adalah pemimpin tertinggi dari
Mataram. Beberapa di antara mereka yang sudah dapat duduk bersandar din-ding,
tiba-tiba telah membaringkan dirinya pula di samping kawan-kawannya.
“Itulah hantu-hantu Alas Mentaok yang kamanungsan,” berkata
Kiai Gringsing.
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Hantu-hantu yang malang. Apakah mereka kehilangan kesaktian mereka untuk
melenyapkan diri?”
“Hantu-hantu yang sudah terlanjur tersentuh tangan manusia
tidak akan dapat melenyapkan dirinya lagi. Itulah sebabnya aku katakan kepada
Tuan, mereka adalah hantu yang kamanungsan. Apalagi sesudah matahari terbit,
me-reka tidak akan berdaya sama sekali.”
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah mereka sudah dapat diajak berbicara dengan bahasa
manusia.”
“Tentu, Tuan, tetapi luka-luka mereka kadang-kadang masih
mengganggu. Mungkin Tuan harus menunggu beberapa saat. Kalau keadaan mereka
menjadi baik, maka mereka akan segera dapat menjawab pertanyaan yang diberikan
kepada mereka.”
Sutawijaya masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia
bertanya, “Darimana kalian dapat menangkap hantu-hantu itu?”
“Mereka datang sendiri kemari. Semalam,” jawab Kiai
Gringsing.
“Menyenangkan sekali,” desis Sutawijaya. Orang-orang yang
terluka itu mendengarkan percakapan Sutawijaya dan gembala tua yang bersenjata
cambuk itu dengan hati yang terasa menjadi semakin panas. Tetapi mereka tidak
dapat berbuat apa-apa. Apalagi sekarang, di hadapan pemimpin tertinggi Mataram
yang membawa beberapa orang pengawal.
Kiai Gringsing pun kemudian berkata kepada pemimpin pengawas
itu, “Kaulah yang berkewajiban untuk menyampaikan laporan tentang keadaan di
daerah ini.”
“Ya. Akulah yang berkuwajiban,” tetapi ia kemudian berkata
kepada Sutawijaya, “Tetapi maaf Tuan. Ternyata Ki Truna Podang lebih banyak
mengetahui keadaan di daerah ini daripada aku. Apalagi setelah aku terluka.
Karena itu, apabila Tuan tidak berkeberatan, biarlah Ki Truna Podang sajalah
yang memberikan laporan tentang daerah ini atas namaku.”
“O, jadi orang inilah yang bernama Truna Podang.”
Pemimpin pengawas itu justru menjadi termangu-mangu, sedang
pengawas yang membawa laporan ke Mataram pun, yang mendengar juga dari bawah
tangga, menjadi heran. Ia memang menyebut nama orang tua itu Truna Podang,
gembala yang bersenjata cambuk.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian,
“Baiklah. Mungkin aku dianggap orang yang banyak berbicara, sehingga akulah
yang paling pantas untuk menyampaikan laporan ini.”
“Ah,” pemimpin pengawas itu berdesah. Tetapi ia tidak
mengatakan apa-apa. Ia tidak menyatakan keheranannya, bahwa di hadapan Raden
Sutawijaya, gembala tua itu seakan-akan berbicara sesuka hatinya. Dan agaknya
Sutawijaya sendiri bersikap aneh pula terhadap gembala itu beserta anak-anak
dan tamunya.
Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan kepada Sutawijaya
apa yang sudah terjadi di sekitar barak itu. Diberinya sedikit pengantar
tentang apa yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Pertentangan-pertentangan
yang timbul, sikap yang kasar dan mencurigakan. Kemudian perselisihan di antara
mereka sendiri. Akhirnya terjadilah peristiwa semalam. Dan Kiai Gringsing tidak
lupa pula mengatakan, bahwa mereka telah membunuh kawan-kawan mereka yang tidak
mereka perlukan lagi.
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Samar-samar ia
dapat membayangkan apa yang sudah terjadi. Bahkan ia berkata di dalam hatinya,
“Apakah jadinya kalau Kiai Gringsing tidak datang ke tempat ini.”
Namun dengan demikian Sutawijaya segera dapat mengambil
kesimpulan pula, bahwa di tempat-tempat lain yang selalu diganggu oleh
hantu-hantu itu pun pasti terjadi persoalan yang serupa. Yang mengganggu itu
pasti sama sekali bukan hantu, seperti yang terjadi di tempat ini.
“Jika demikian, mereka pasti mempunyai kekuatan yang cukup
dan jumlah orang yang memadai. Mereka ternyata menguasai daerah yang luas di
sekitar Alas Mentaok. Hampir setiap daerah pembukaan hutan, hantu-hantu itu
selalu mengganggu mereka dan berusaha mendesak mereka keluar dari tlatah hutan
Mentaok.”
“Kita sudah dapat menduga, apakah maksud mereka. Tetapi maksud
yang lebih dalam lagi, kita masih harus meraba-raba.”
“Ya. Mula-mula mereka akan menggagalkan pembukaan hutan ini.
Selanjutnya, kita belum tahu.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Kita mempunyai beberapa orang tawanan. Kita akan segera dapat
bertanya kepada mereka apabila keadaan mereka berangsur baik.”
“Ya. Tetapi apakah peristiwa ini tidak akan mempengaruhi
sikap mereka di daerah-daerah yang lain?”
“Memang mungkin. Tetapi aku kira mereka sedang memusatkan
perhatian mereka di tempat ini. Di tempat yang mereka anggap tidak
menguntungkan dan berbahaya.”
Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sebagai seorang pemimpin
ia tidak membatasi sudut pandangannya sekedar daerah yang sedang dihadapinya.
Tetapi Sutawijaya mulai membuat gambaran apa yang dapat terjadi di
daerah-daerah lain. Mungkin pembalasan dendam, mungkin pelepasan sakit hati
atau semacam itu. Bahkan di beberapa tempat yang masih belum mendengar
peristiwa ini, pasti masih selalu dibayangi oleh ketakutan karena hantu-hantu
Alas Mentaok.
Tetapi agaknya hantu-hantu itu kini memang justru sedang
menyoroti daerah yang mereka anggap sebagai pintu gerbang dari kegagalan
mereka. Meskipun mereka dapat berbuat banyak di daerah lain, namun dari daerah
ini pasti akan tersebar berita tentang peristiwa yang telah terjadi di sini.
Sementara itu Sutawijaya masih merenungi daerah yang sedang
dibinanya. Mataram. Daerah yang sedang dikembangkannya menjadi suatu negeri
yang ramai. Namun kini ia harus menghadapi rintangan yang cukup berat baginya.
Sejenak kemudian maka Sutawijaya itu pun berkata, “Aku
mempunyai perhitungan, bahwa mereka, maksudku orang-orang yang tidak kita kenal
itu, pasti sedang menyiapkan orang-orangnya yang terpencar. Mereka pasti
menyiapkan diri untuk suatu tindakan yang cermat atas daerah ini. Mereka ha-rus
dapat menyembunyikan kekalahan mereka serapat-rapatnya, supaya mereka masih
mempunyai lapangan yang luas untuk membuat rencana-rencana baru bagi
daerah-daerah yang lain.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” jawab
orang tua itu, “Beberapa dari orang-orang mereka itu tertawan di sini. Mereka
pasti mempunyai rencana untuk itu. Mengambil mereka, atau membinasakan mereka
sama sekali.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Bahkan mungkin ia akan
berbuat lebih jauh lagi di sini.”
Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya halaman yang
terhampar di depan barak itu. Kemudian pepohonan yang jarang, dikelilingi oleh
pagar yang lemah. Di muka barak itu sebuah jalan menghubungkan regol halaman ini
dengan gardu pengawas yang kosong. Sedang ujung lain adalah barak yang sebuah
lagi.
“Untuk sementara kita hanya dapat bertahan,” berkata
Sutawijaya. “Aku tidak memperhitungkan sampai sejauh ini ketika aku belum
melihat keadaan terakhir. Sedang para pengawas yang datang ke Mataram itu pun
masih belum dapat mengatakannya, karena hal itu terjadi setelah mereka
meninggalkan tempat ini.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah ada di antara mereka yang sudah dapat diajak
berbicara?” bertanya Sutawijaya.
Kiai Gringsing mengangguk.
“Ada dua atau tiga orang yang meskipun tidak terlalu banyak,
dapat dimintakan keterangan kepada mereka.
“Aku ingin berbicara dengan mereka. Sedikit saja.”
“Silahkan.”
Sementara orang-orang di dalam barak itu menyediakan minuman
panas untuk Sutawijaya dan pengiringnya, Sutawijaya sendiri bangkit berdiri
diikuti oleh Kiai Gringsing mendekati orang-orang yang terluka.
“Orang yang berdahi lebar itulah yang agaknya dapat dibawa
berbicara meskipun tidak terlampau banyak. Lukanya tidak begitu parah. Bahkan
ia sudah dapat duduk bersandar dinding.”
Sutawijaya memandang orang yang berdahi lebar itu. Katanya
kemudian, “Apanya yang terluka?”
“Pundak dan lambungnya. Darahnya kadang-kadang masih
mengalir apabila ia terlalu banyak bergerak. Orang ini agak keras kepala.
Kadang-kadang ia menggeliat atau bangkit dengan tiba-tiba.”
“Tetapi masih ada tempat untuk mencekiknya atau menikam
dengan keris pusaka ini.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya mendengar jawaban Sutawijaya
itu. Apalagi ketika Sutawijaya kemudian berdiri setapak di samping orang itu.
“Siapa namamu?” bertanya Sutawijaya.
Orang itu tidak menyahut.
“Siapa namamu?”
Orang itu masih diam saja.
“Kau tidak mau menjawab? Baiklah. Sekarang aku bertanya tentang
yang lain. Siapakah pemimpin yang tertinggi yang kau kenal di dalam
gerombolanmu. Katakanlah, hantu yang paling tinggi derajatnya. Apakah kau
kenal?”
Orang itu tidak menyahut.
“Dan berapa orang yang ada di dalam lingkunganmu seluruhnya
yang tersebar di hutan ini?”
Orang itu sama sekali tidak menjawab.
Tetapi orang yang berdahi lebar itu, bahkan kawannya yang
berbaring di sekitarnya, terkejut ketika tiba-tiba saja Sutawijaya tertawa,
“Bagus. Memang seharusnya kau tidak menjawab. Kau adalah laki-laki yang sudah
berjanji untuk terjun ke dalam dunia yang hitam. Karena itu, kau harus tetap
bertekad di dalam keadaan apa pun juga untuk bersatu di dalam ikatan batin
dengan kawan-kawanmu, meskipun kadang-kadang pemimpinmu sendiri kurang
mempercayaimu. Terbukti ada di antara kawan-kawanmu yang mati terbunuh oleh
pemimpin-pemimpinmu sendiri, pemimpin-pemimpin kecil.” Sutawijaya berhenti
sejenak, lalu, “Nah, sebelum kau dibunuh oleh kawan-kawanmu sendiri, kau harus
menunjukku bahwa kau adalah seorang laki-laki. Ketahuilah, bahwa pada suatu
saat, kalian akan kami tempatkan di halaman ini sambil mengikat kalian pada
tiang-tiang. Kalian akan menjadi sasaran latihan memanah yang baik sekali bagi
kawan-kawan kalian yang bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul liar di sekitar
banjar ini. Kalau mereka tidak pandai memanah, maka mereka akan merayap dengan
diam-diam mendekati kalian di malam hari, dan menikam dada kalian dengan keris,
atau dengan tombak. Apakah kalian mengerti?”
Orang itu masih membeku. Tetapi wajahnya menjadi tegang.
Bahkan kawan-kawannya yang lain, yang terluka parah pun menjadi semakin kecut.
“Tetapi sebelum itu, kami akan berusaha memeras keterangan
dari kalian dengan segala cara. Kami tahu, bahwa kalian adalah orang-orang
jantan, yang tidak akan membuka mulut kalian. Karena itulah maka kami akan
memperlakukan kalian sebagai laki-laki jantan. Kami akan menyiksa kalian dengan
cara yang paling kejam yang pernah disebut oleh manusia beradab.”
Kata-kata Sutawijaya itu benar-benar telah mengejutkan orang-orang
yang mendengarnya. Bukan saja orang-orang yang sedang terluka, yang terbaring
sebagai tawanan, tetapi juga orang-orang di barak itu. Bahkan Kiai Gringsing
dan kedua muridnya serta Sumangkar pun menjadi heran pula.
“Apakah kemarahan Raden Sutawijaya benar-benar telah sampai
ke puncak ubun-ubunnya, sehingga ia akan memperlakukan orang-orang yang sudah
tidak berdaya itu sedemikian kejamnya,” pertanyaan itu timbul di setiap dada.
Namun demikian, ada juga orang-orang yang berkata di dalam
hati. “Nah, ternyata putera Ki Gede Pemanahan pun memperlakukan demikian.
Kenapa orang tua dan kedua anak-anaknya itu telah mencegah kami? Seandainya
Raden Sutawijaya itu ada di sini, aku kira kita akan dapat melakukannya,
meskipun harus membiarkan dua atau tiga di antaranya tetap hidup untuk
memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan.”
Tetapi kini tawanan-tawanan itu sudah berada di tangan
Sutawijaya. Orang-orang yang masih dibakar oleh dendam itu hanya dapat
menunggu. Mungkin mereka akan mendapat giliran pula untuk melepaskan sakit hati
mereka
“Bersiaplah,” berkata Sutawijaya, “kau, orang yang berdahi
lebar yang tidak mau menyebut namanya dan tidak mau menjawab semua pertandaanku
itulah yang harus mengalaminya pertama-tama. Kau tidak berkeberatan?”
Wajah orang itu menjadi pucat
“He, kenapa kau menjadi pucat seperti orang yang ketakutan?
Bukankah kau seorang laki yang sudah menentukan sikap? Jangan menjadi pengecut.
Jangan membuat lingkungan yang kau pilih menjadi malu. Kau harus mene-ngadahkan
wajah dan dadamu sambil berkata, “Inilah aku. Salah seorang dari segerombolan
orang-orang yang telah menghimpun diri dengan rahasia. Kami terdiri dari
laki-laki jantan yang tidak gentar menghadapi setiap kemungkinan” Bukankah
begitu? Dengan demikian kau masih dapat berbangga di saat-saat terakhir.”
Orang berdahi lebar itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya
menjadi semakin pucat.
“Bawalah orang ini,” perintah Sutawijaya sambil berpaling
kepada pengiringnya, “bawalah orang ini ke belakang barak ini. Aku ingin
melihat, sampai di mana ia mempertahankan kejantanannya. Sediakan sepotong
dahan cangkring yang berduri rapat dan semangkuk air garam.”
“Jangan, jangan,” tiba-tiba orang berdahi lebar itu
berteriak.
“Kenapa kau berteriak seperti seorang pengecut? Kau adalah
seorang laki-laki. Sebelum dadamu remuk dan kulitmu terluka arang kranjang, kau
tidak boleh menjawab setiap pertanyaanku. Dengan demikian kau akan menodai
kejantanan kalian.” Lalu sekali lagi Sutawijaya memerintahkan kepada
pengiringnya, “Bawa orang ini ke belakang barak.”
Ketika beberapa orang naik ke serambi, orang itu tiba-tiba
bangkit berdiri. Dengan sisa tenaganya ia ingin meloncat dan berlari. Tetapi
ternyata Sutawijaya benar-benar tangkas. Dengan cepatnya ia menangkap lengan
orang itu dan menariknya, “Kau mau lari?”
“Ampun,” teriaknya. Lukanya tiba-tiba terasa menjadi
demikian sakitnya disertai dengan perasaan takut yang luar biasa.
“Jangan meronta-ronta seperti kanak-kanak,” berkata
Sutawijaya, “lukamu akan berdarah lagi.”
“Jangan, jangan,” orang itu masih tetap meronta ketika dua
orang pengawal memegang lengannya dan membawanya turun dari serambi.
“Jagalah luka-lukamu. Kenapa kau tiba-tiba saja menjadi
seorang pengecut.”
Orang itu tidak sempat menjawab. Ia masih saja berteriak dan
meronta-ronta. Tetapi kedua pengawal itu membawanya langsung ke belakang
serambi.
“Seorang pun tidak boleh melihat caraku memeriksa orang
itu,” berkata Sutawijaya sambil mengedarkan pandangan matanya. “Para pengawalku
akan menjaga. Siapa yang memaksa ingin melihat, akan mengalami nasib yang
serupa dengan orang itu. Aku tidak ingin kalian tidak dapat tidur sepanjang
hidup kalian karena kalian melihat, bagaimana aku menyiksa orang yang tidak mau
menjawab pertanyaanku. Hanya orang-orang yang aku tunjuk sajalah yang boleh
mengikuti aku.”
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
“Aku minta perintah ini ditaati,” berkata Sutawijaya
kemudian. Dan diperintahkannya para pengawalnya untuk mengawasi orang-orang di
barak itu. Katanya kemudian, “Para tawanan ini pun harus diawasi baik-baik. Siapa
yang mencoba melarikan diri, ia pasti akan menyesal, karena ia akan me-ngalami
perlakuan yang lebih mengerikan.”
Barak itu telah dicengkam oleh kengerian yang memuncak. Dada
mereka menjadi tegang dan darah mereka serasa menjadi semakin lambat mengalir.
Sutawijaya kemudian meninggalkan serambi itu, pergi ke
belakang barak. Yang dibawanya adalah Truna Podang beserta kedua anaknya dan
Sumangkar. Seorang pengawal dan pemimpin pengawas yang terluka itu.
“Kalau kau ingin membalas, kau akan mendapat kesempatan,”
berkata Sutawijaya. Tetapi pemimpin pengawas itu tidak menjawab. Ia sama sekali
tidak mengira, bahwa demikianlah yang akan dijumpainya, justru setelah
Sutawijaya sendiri datang.
Orang yang berdahi lebar itu masih saja meronta-ronta.
Apalagi ketika ia melihat kehadiran Sutawijaya. Tiba-tiba saja ia berteriak,
“Jangan, jangan, jangan Tuan. Aku minta ampun. Aku minta ampun.”
Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dilihatnya orang itu
menjadi sangat ketakutan. Wajahnya menjadi seputih kapas dan matanya meratap
minta belas kasihan.
Kiai Gringsing, Sumangkar, Agung Sedayu, dan Swandaru serta
pemimpin pengawas yang terluka itu masih berdiri termangu-mangu. Namun terasa
dada mereka terguncang-guncang oleh keheranan akan sikap Sutawijaya. Apalagi
pemimpin pengawas yang terluka itu, yang masih belum dapat berdiri tegak
sendiri, sehingga ia masih memerlukan pertolongan Agung Sedayu.
Tetapi orang-orang itu menjadi semakin heran, bahwa
Sutawijaya sama sekali tidak berbuat sesuatu. Ia masih berdiri saja sambil memandang
orang yang berteriak-teriak itu, “Ampun, aku minta ampun.”
Ketika Sutawijaya perlahan-lahan melangkah maju, maka nyawa
orang itu serasa sudah melekat di ubun-ubun. Karena itu ia berteriak semakin
keras.
Kawan-kawannya yang masih ada di serambi, mendengar teriakan
itu meskipun tidak begitu jelas. Namun setiap kali dada mereka berdesir.
Terbayang di rongga mata mereka, kawannya yang berdahi lebar itu sedang
mengalami siksaan yang tiada taranya, sehingga orang itu berteriak-teriak tidak
menentu.
“Jangan, jangan,” teriak orang berdahi lebar itu.
Sutawijaya masih berdiri memandanginya dengan tajamnya.
Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya. Dengan ujung jarinya ia menyentuh
lambung orang yang berdahi lebar itu.
Oleh ketakutan yang dahsyat, maka sentuhan itu terasa
bagaikan duri-duri cangkring yang tajam tergores dikulitnya. Karena itu ia
berteriak semakin keras.
“He,”desis Sutawijaya, “kenapa kau berteriak-teriak? Apakah
aku sudah berbuat sesuatu?”
Pertanyaan itu telah menghentikan teriakan-akan yang
seakan-akan mengumandang memenuhi pinggir hutan yang sedang dibuka itu.
“Kenapa kau berteriak-teriak?” ulang Sutawijaya, “Coba
katakan, apakah aku sudah berbuat sesuatu? Aku memang akan menyiksamu dengan
cara yang paling kejam seperti sudah aku katakan. Aku ingin memeras semua
keteranganmu tentang dirimu sendiri dan tentang gerombolanmu yang selama ini
berkedok sebagai hantu-hantu di Alas Mentaok. Kalau kau tidak mau berbicara,
maka aku akan mempergunakan segala macam cara tanpa menghiraukan perikemanusiaan.
Tanpa menghiraukan belas kasihan dan peradaban manusia.”
“Jangan, jangan,” orang itu memohon. Suaranya merintih
seperti ujung nyawanya sudah mulai lepas dari tubuhnya.
“Kenapa kau melarang? Itu terserah kepadaku. Selain Ayahanda
Pemanahan, tidak ada orang yang lebih berkuasa dari aku di sini. Aku dapat
berbuat apa saja. Aku dapat membunuh siapa saja tanpa dapat dituntut oleh
seorang pun. Aku tidak takut oleh dendam siapa pun juga.”
Tubuh orang itu kini menggigil seperti sedang kedinginan.
“Lepaskan,” perintah Sutawijaya kepada kedua pengawalnya
yang memegangi orang itu.
Pengawalnya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi Sutawijaya
mengulangi, “Lepaskan. Sediakan saja tali yang cukup panjang. Apabila ia
mencoba lari, ikatlah kedua tangannya dengan tali yang direntang pada dua
batang pohon. Setiap orang akan lewat di sampingnya dan melakukan hukuman
picis.”
“Tidak. Tidak,” orang itu berteriak lagi.
Perlahan-lahan kedua pengawal itu melepaskan pegangannya.
Namun orang yang ketakutan itu hampir tidak dapat berdiri sendiri. Bukan saja
karena lukanya, tetapi karena ia benar-benar dicengkam oleh kengerian mendengar
ancaman-ancaman Sutawijaya.
Tetapi, Sutawijaya kemudian justru tersenyum. Dengan terus
terang ia berkata, “Aku kecewa melihat sikapmu. Kau pasti bukan orang yang
dapat dibanggakan oleh gerombolanmu. Sebelum kau tersentuh apa pun, kau sudah
ketakutan setengah mati. Ayo, bersiaplah menerima siksaan yang paling berat.”
“Jangan, jangan, Tuan.”
Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia membentak,
“Siapa namamu?”
“Sura Mudal,” orang itu membentak pula diluar sadarnya.
“Kau menbentak aku he?”
“Tidak, tidak, Tuan. Aku tidak sengaja.”
“Nah, sekarang kau dapat memilih. Kau menjawab setiap
pertanyaanku, atau aku benar-benar harus melakukan seperti yang aku katakan?”
Kiai Gringsing, Sumangkar, Agung Sedayu, Swandaru, dan
pemimpin pengawas yang terluka itu menarik nafas dalam-dalam. Kini mereka sadar
bahwa Sutawijaya telah melakukan suatu permainan yang berhasil. Bahkan Kiai
Gringsing mengusap keningnya yang basah sambil berkata kepada diri sendiri,
“Ternyata putera Pemanahan ini pandai juga berkelakar, meskipun orang lain
hampir menjadi pingsan karenanya.”
“Apakah kau dapat memilih?” bertanya Sutawijaya.
“Ya, ya. Aku dapat memilih.”
“Yang manakah yang kau pilih? Tubuhmu dilecut dengan ranting
pohon cangkring yang berduri rapat kemudian disiram dengan air garam?”
“Tidak, tidak, Tuan. Jangan itu.”
“Jadi?”
“Aku, aku akan menjawab pertanyaan Tuan.”
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Ternyata kau cukup bijaksana. Karena itu, duduklah. Kita berbicara dengan
baik.”
Orang itu menjadi bingung melihat sikap Sutawijaya. Kini
Sutawijaya tiba-tiba menjadi ramah dan baik.
“Duduklah,” berkata Sutawijaya. Ia sendiri mendahului duduk
di bebatur barak bersandar dinding, diikuti oleh orang-orang lain yang
menunggui pemeriksaan itu.
Tetapi orang yang menyebut dirinya Sura Mudal itu masih
berdiri dengan gemetar. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan karena
kecemasan dan ketakutan yang mencengkam jantung.
“Duduklah,” sekali lagi Sutawijaya mempersilahkannnya dengan
ramah, “jangan takut. Kalau kau dapat menempuh kebijaksanaan ini aku sangat
hormat kepadamu. Sebenarnya memang tidak ada gunanya menyakiti diri sen-diri.
Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadamu, adalah suatu perbuatan yang
sia-sia. Kau akan mengalami penderitaan. Sedang yang kau simpan itu pun
akhirnya akan terloncat pula dari bibirmu karena segala macam cara. Mungkin
cara yang belum pernah kau bayangkan.”
Orang itu masih berdiri kebingungan.
“Nah, kau sudah menjawab siapa namamu,” berkata Sutawijaya,
“sekarang duduklah di sini. Di sampingku.”
Dengan ragu-ragu orang itu melangkah maju. Sekali-sekali ia
masih menyeringai karena luka-lukanya yang terasa sakit.
“Kau bernama Sura Mudal bukan?” berkata Sutawijaya kemudian.
“Nah, sekarang katakan, siapakah pemimpinmu?”
“Kiai Damar,” jawab orang itu.
“Apakah Kiai Damar itu pemimpin tertinggi di dalam
lingkunganmu?”
“Tidak. Masih ada orang lain yang tidak aku ketahui.”
“Darimana kau tahu bahwa masih ada orang lain.”
“Aku sering melihat seseorang yang datang ke gubug Kiai
Damar. Orang yang tinggi dan berjambang lebat.”
“Siapakah namanya?”
Orang itu menggelengkan kepalanya.
“Siapa namanya?” desak Sutawijaya.
“Benar, aku tidak tahu, Tuan. Aku tidak tahu.”
Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa orang itu
tidak mengetahuinya.
“Coba sebutkan, berapa orang jumlah kawan-kawanmu
seluruhnya?”
“Aku tidak tahu, Tuan.”
“He, kau tidak tahu? Kau tidak tahu jumlah orang-orang di
dalam gerombolanmu.”
“Ya, ya, Tuan. Eh, maksudku aku tidak tahu. Tetapi yang ada
bersama-sama dengan Kiai Damar, aku dapat mengetahuinya.”
“Berapa orang yang diserahkan kepada Kiai Damar?”
“Lima belas orang, ditambah dua orang penghubung.”
“Dua orang penghubung? Di mana yang dua orang itu?”
“Yang seorang tidak bersama kami sekarang. Yang seorang
semalam ikut di dalam serangan ini. Tetapi mungkin ia mati terbunuh.”
“Salah seorang dari dua orang yang mati itu?”
“Agaknya benar, Tuan. Sebab ia tidak ada di antara kami yang
tertangkap.”
“Ada dua orang yang mati. Tetapi dibunuh oleh Kiai Damar
sendiri. Seorang dapat melarikan diri bersama Kiai Damar dan sisanya adalah
kalian.”
Orang berdahi lebar itu mengangguk-angguk.
“Nah, yang manakah yang kau maksud dengan penghubung itu?
Yang terbunuh atau yang melarikan diri?”
Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak melihat keduanya.
Juga yang melarikan diri aku tidak tahu pasti. Tetapi satu di antara tiga orang
yang tidak ada di antara kami itulah penghubung itu.
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Penghubung itu
pasti mengetahui agak banyak tentang kelompok rahasia yang selama ini
mengganggu usahanya membuka Alas Mentaok.
“Sekarang, ceriterakan, apa saja yang pernah kau lakukan
selama kau berperan sebagai hantu-hantu kecil di Alas Mentaok ini,” berkata
Sutawijaya kemudian.
Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ketika Sutawijaya
meraba lengannya, ia berkata, “Ya, ya. Aku akan berceritera tentang Alas
Mentaok.”
“Bukan tentang Alas Mentaok. Tetapi tentang dirimu sendiri.
Apakah kau tahu maksudku?”
“Ya, ya. Aku tahu.”
“Nah, apa saja yang sudah kau lakukan sebagai hantu Alas
Mentaok.”
Orang itu masih dicengkam oleh keragu-raguan. Namun sekali
lagi Sutawijaya meraba tangannya sambil berkata, “Kulitmu memang liat sekali.”
“Tidak. Tidak.” Dan orang itu pun mulai berceritera. Hampir
tidak ada yang dilampauinya, apa yang diketahuinya diceriterakannya kepada
Sutawijaya.
Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru yang mendengar
ceritera itu pula, mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kini menjadi semakin
jelas, apa saja yang selama ini mereka hadapi. Kini ternyata pula orang yang
pernah dengan ketakutan mendekap Swandaru di tempat kerjanya, adalah
orang-orang Kiai Damar pula. Kemudian ular dan bahkan api itu.
“Jadi, kau hanya mengenal Kiai Damar sebagai pemimpinmu?”
“Ya, Tuan, Kiai Damar yang sekarang.”
“Yang sekarang? Apakah ada Kiai Damar yang dahulu.”
Orang itu tidak segera menjawab.
“Katakanlah,” Sutawijaya bergeser setapak mendekati orang
itu.
“Ya, ya. Kiai Damar memang pernah berganti. Tetapi kedua
orang itu memang mirip sekali.”
“Ah, apakah kau sedang bermimpi? Mungkin orangnya memang
sama. Tetapi supaya menimbulkan kesan yang lain, dibuatnya ceritera yang
aneh-aneh itu.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Bukan, memang bukan
orang lain. Tetapi Kiai Damar yang dahulu sudah mati. Tetapi ia hidup lagi.
Orang itu adalah Kiai Damar yang sekarang. Tetapi ada beberapa hal yang dahulu
sudah tidak diingatnya lagi.”
Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia
berpaling memandang Kiai Gringsing yang termangu-mangu.
Untuk beberapa lama orang-orang yang duduk di belakang barak
itu saling berdiam diri. Mereka sedang merenungi angan-angan masing-masing yang
mengambang dari waktu ke waktu. Mereka seakan-akan melihat apa yang telah
terjadi selama ini di daerah yang sedang dibuka itu. Semula orang-orang itu
datang dengan membawa harapan untuk mendapat tanah yang lebih baik dari daerah
yang mereka tinggalkan. Mereka membawa harapan untuk hidup di dalam suatu
negeri yang makmur, adil, dan harapan untuk mendapat kesempatan yang baik
karena mereka termasuk orang-orang yang membuka tanah. Mereka termasuk
perintis-perintis jalan untuk masuk ke Alas Mentaok lebih dalam lagi. Namun
kemudian mereka telah dicengkam oleh ketakutan. Beberapa orang menjadi putus
asa dan meninggalkan daerah yang sudah mulai mereka buka. Kunjungi kami di
adbmcadangan dotwordpress dotcom. Sebagian masih bertahan karena mereka sudah
tidak mempunyai tempat untuk kembali. Namun setiap hari mereka selalu dibayangi
oleh ketakutan dan kecemasan. Hari depan mereka menjadi suram, dan
harapan-harapan yang sudah mereka susun pada saat mereka berangkat itu
satu-satu menjadi pecah berserakan seperti kepingan mangkuk yang jatuh di atas
batu hitam. Apalagi di saat-saat terakhir. Mereka hampir menjadi gila
karenanya. Mereka kehilangan segala macam harapan dan gairah bagi masa depan
mereka. Mereka bahkan merasa bahwa maut setiap saat telah membelai kepala mereka.
Tetapi mereka tiba-tiba saja telah dikejutkan oleh peristiwa
semalam. Orang yang menyebut dirinya Truna Podang, dan yang selama ini mereka
anggap sebagai seorang yang aneh, sombong dan tidak mengenal takut itu, bersama
anak-anaknya telah berhasil menangkap hantu-hantu yang selama ini
menakut-nakuti mereka.
Peristiwa ini adalah merupakan suatu tingkatan baru di dalam
perjalanan hidup mereka. Harapan yang telah musnah itu, selapis demi selapis
telah mereka susun kembali di dalam hati.
Tetapi semuanya masih belum mantap. Persoalan hantu-hantu
itu masih belum selesai Mungkin masih akan ada akibat-akibat yang menimpa
orang-orang yang diombang-ambingkan oleh keadaan itu.
Orang-orang yang terluka, yang terbaring di serambi depan
menjadi semakin cemas dan berdebar-debar. Kawannya yang dibawa ke belakang
barak itu sudah tidak terdengar suaranya lagi. Mereka menyangka bahwa orang
berdahi lebar itu, telah terbaring di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu.
Mungkin tubuhnya telah hancur disayat oleh duri-duri cangkring yang tajam.
Darah bercampur keringat telah membasahi seburuh tubuhnya yang tidak berbentuk
lagi.
Bersambung ke buku-59
Tidak ada komentar:
Posting Komentar